Pengungsi Myanmar terdampar di laut tanpa makanan dan minuman

Sumber gambar, Getty
Sektiar 355 pengungsi asal Myanmar berada di kapal dan terapung-apung di laut tanpa makanan dan minuman selama tiga hari.
Sebuah badan amal, Proyek Arakan -yang membantu warga Rohignya- mengatakan kepada BBC bahwa mereka sudah berbicara langsung lewat telepon kepada para pengungsi tersebut.
Di dalam kapal juga terdapat sekitar 50 perempuan dan 84 anak.
Para pengungsi mengatakan awak kapal, yang berkebangsaan Thailand, sudah meninggalkan perahu Minggu 10 Mei.
Lokasi persis kapal tersebut belum bisa dipastikan namun diperkirakan tidak jauh dari Pulau Langkawi, Malaysia.

Sumber gambar, Reuters
Operasi penggrebekan baru-baru ini di Thailand atas pendatang gelap suku Rohingya agaknya membuat banyak penyelundup manusia tidak ingin mendaratkan pengungsi dan meninggalkan mereka di laut.
<link type="page"><caption> Beberapa pengungsi yang diduga warga Rohingya itu di antaranya sudah diselamatkan dan mendarat</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150511_rohingya_pengungsi" platform="highweb"/></link> di Pulau Langkawi, Malaysia, sedangkan sekitar 500 lainnya di tempat penampungan sementara di Lhoksukon, Aceh utara.
Hari Selasa (12/05) <link type="page"><caption> pemerintah Indonesia mengakui 'menolak' kedatangan kapal pengungsi Rohingya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150511_rohingya_tni" platform="highweb"/></link> yang berada di perairan Aceh dan memintanya untuk memutar arah agar tidak mendarat di wilayah Indonesia.
"Mereka masih berada di tengah laut dan kebijakan Panglima TNI (Jenderal Moeldoko) agar mereka yang masih berada di tengah laut untuk dicegat tidak masuk perairan Indonesia," jelas Juru bicara Mabes TNI, Mayjen Fuad Basya kepada BBC Indonesia.
Kapal yang 'diusir' tersebut disebutkan berada di sekitar 7-10 mil dari pantai Aceh.











