Pengungsi Bangladesh dan Myanmar terdampar di laut

Sumber gambar, EPA
Organisasi Migrasi Internasional, IOM, mengatakan ribuan pengungsi dari Bangladesh dan Myanmar terdampar di laut lepas pantai Thailand.
Juru bicara IOM mengatakan operasi penggrebekan baru-baru ini di Thailand atas pendatang gelap suku Rohingya membuat banyak penyelundup manusia yang tidak ingin mendaratkan mereka.
Oleh karena itu sekitar 8.000 pengungsi dibiarkan menjadi terapung-apung di laut.
Polisi Malaysia mengatakan lebih dari 1.000 pengungsi mendarat di Pulau Langkawi, Senin (11/05).

Sumber gambar, Reuters
<link type="page"><caption> Sementara 1.000 pengungsi yang diperkirakan suku Rohingya lainnya mendarat di Aceh</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150510_aceh_rohingya_kapal" platform="highweb"/></link> dalam waktu dua hari belakangan, termasuk sekitar 500 di Aceh Utara pada Minggu (10/05).
Badan pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan jumlah orang yang meninggalkan Bangladesh dan Myanmar dengan menggunakan perahu meningkat dua kali dalam waktu tiga bulan pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hingga akhir November 2014, terdapat 40.070 pengungsi Rohingya yang terdaftar di UNHCR di Malaysia.
Sedangkan di Indonesia ada <link type="page"><caption> 738 pengungsi Rohingya dari Myanmar hingga akhir Februari 2015.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/04/150421_rohingya_penempatan" platform="highweb"/></link>
Mereka umumnya menempatkan Indonesia dan Malaysia sebagai negara transit dengan harapan akan dibawa ke negara ketiga, antara lain Australia.













