LSM: Dewan Keamanan PBB gagal lindungi warga sipil Suriah

Sebanyak 5,6 juta anak di Suriah memerlukan bantuan.
Keterangan gambar, Sebanyak 5,6 juta anak di Suriah memerlukan bantuan.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa gagal menerapkan rangkaian resolusi untuk melindungi dan membantu warga sipil di Suriah, sebut laporan yang disusun 21 lembaga swadaya masyarakat.

Gabungan LSM, termasuk di antaranya Save the Children dan Oxfam, mengatakan 2014 merupakan tahun terburuk bagi warga sipil Suriah. Dari kumpulan data yang mereka catat, sebanyak 76.000 warga Suriah tewas akibat konflik.

Warga yang masih hidup pun mengalami kesulitan. Pada 2013, sedikitnya sejuta orang bermukim di kawasan yang sulit dijangkau bantuan. Hanya dalam setahun, jumlah itu meningkat menjadi 4,8 juta orang.

Yang memprihatinkan, menurut gabungan 21 LSM itu, sebanyak 5,6 juta anak-anak memerlukan bantuan—peningkatan 31% sejak 2013.

“Kenyataan pahitnya adalah Dewan Keamanan gagal menerapkan resolusi-resolusinya. Pihak-pihak yang berkaitan dengan konflik telah bertindak tanpa sanksi dan mengabaikan tuntutan Dewan Keamanan. Warga sipil tidak dilindungi dan akses mereka ke bantuan tidak kunjung membaik,” kata Jan Egeland, sekretaris jenderal lembaga Dewan Pengungsi di Norwegia.

Jumlah warga sipil di Suriah yang memerlukan bantuan meningkat drastis hanya dalam kurun setahun.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Jumlah warga sipil di Suriah yang memerlukan bantuan meningkat drastis hanya dalam kurun setahun.

Harapan hidup

Data ke-21 lembaga bantuan itu sejalan dengan laporan Pusat Riset Kebijakan Suriah yang disokong PBB. Laporan tersebut menyebutkan bahwa selama empat tahun konflik berlangsung di Suriah, sebanyak 10 juta orang mengungsi dari rumah mereka. Harapan hidup seseorang pun berkurang dua dekade menjadi 56 tahun.

Fakta itu berbanding lurus dengan laporan lembaga Dokter Tanpa Batas atau Medecins Sans Frontieres (MSF). Lembaga yang menyalurkan tenaga medis ke daerah konflik dan kawasan bencana itu mengatakan kurang dari 100 dokter yang berada di Aleppo, Suriah. Padahal, sebelum konflik terdapat sekitar 2.500 dokter di kota tersebut.

Sebagian besar dokter, kata MSF, melarikan diri, mengungsi, diculik, atau dibunuh.