Aparat akhiri protes pencari suaka di Pulau Manus

Sumber gambar, Reuters
Aparat keamanan di Pulau Manus, pusat penahanan pencari suaka Australia yang terletak di lepas pantai Papua Nugini, menerobos barikade para pencari suaka yang tengah melakukan aksi mogok makan dan menyeret puluhan orang ke sel isolasi.
Para petugas keamanan, yang memakai perlengkapan anti huru-hara, dilaporkan menerobos barikade sejumlah pengunjuk rasa untuk membubarkan aksi protes yang telah berlangsung selama dua hari.
Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton memuji “cara teladan" dalam merespons aksi protes tersebut. Dia mengatakan memang ada " kekerasan" yang digunakan, tetapi mengatakan situasi tersebut tidak mengakibatkan "konflik antara para pengunjuk rasa dan polisi".
Dutton mengatakan kepada <italic>ABC</italic> bahwa pihak berwenang memasuki kompleks <link type="page"><caption> para pencari suaka</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/07/130726_unhcr_kritik_australia" platform="highweb"/></link> "untuk memberikan dukungan" dan bantuan medis.
Menurutnya, pemerintah Papua Nugini dan perusahaan Transfield—yang dikontrak untuk mengelola pusat penanahanan Pulau Manus—telah menangani aksi unjuk rasa itu dengan "sangat baik".
Para petugas kepolisian dikatakan tengah mencari pimpinan pengunjuk rasa yang dituding oleh pihak Australia telah memprovokasi aksi protes ini.
Ian Rintoul, juru bicara kelompok kampanye Koalisi Aksi Pengungsi, mengatakan kepada BBC bahwa 58 orang telah diseret ke sel isolasi, beberapa di antara mereka dilaporkan menderita luka ringan.
Belum diketahui jelas situasi di kamp tersebut, namun Rintoul mengatakan ratusan pencari suaka masih melakukan aksi mogok makan.
Media tidak diijinkan untuk memasuki lokasi dan pernyataan-pernyataan baik dari pemerintah maupun dari para pendukung pencari suaka tidak dapat dikonfirmasi secara independen sehingga sejumlah laporan sulit untuk diverifikasi.

Sumber gambar, AFP
Bentrok
<link type="page"><caption> Pulau Manus</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/11/121121_australia_suaka_papuanugini" platform="highweb"/></link> menjadi tempat kerusuhan Februari 2014 lalu. Saat itu warga setempat memasuki fasilitas dan bentrok dengan para tahanan. Salah satu pencari suaka tewas dan sedikitnya 70 orang terluka dalam aksi kekerasan itu.
Aturan yang dibuat pemerintah Australia sebelumnya mengatakan tidak ada satupun dari para pencari suaka itu dapat bermukim di Australia.
Pemerintah mengatakan peraturan tegas itu diterapkan agar tidak ada lagi sejumlah kapal pencari suaka yang tenggelam ketika menempuh perjananan berbahaya ke Australia.
Menurut laporan media setempat, hanya ada satu kapal yang bisa mencapai Australia selama 2014, sedangkan pada tahun 2013 sebanyak 401 pengungsi mendarat di pantai negara tersebut.
Sebagian besar pencari suaka berasal dari Afghanistan, Sri Lanka, Irak, dan Iran. Mereka bertolak dari pantai Indonesia menuju Australia melalui Pulau Christmas.









