Penyelundupan manusia dari RI 'sudah darurat'

Sumber gambar, PA
Pegiat antipenyelundupan manusia menyebut perdagangan manusia dari Indonesia dengan tujuan untuk menjadi tenaga kerja atau dimasukkan ke industri seks, sudah memasuki keadaan darurat.
Hal ini disampaikan pegiat Gerakan Anti Trafficking di Batam Deddy Ismantoro mengomentari 53 warga negara Indonesia yang dipulangkan dari Malaysia.
Mereka diduga akan diselundupkan ke Timur Tengah.
"Kalau untuk jumlah, hampir semua lembaga tidak mendapatkan data yang pasti, berapa jumlahnya. Tapi yang pasti, hasil identifikasi di kami itu cukup besar. Jutaan," kata Deddy kepada wartawan BBC Indonesia, Rizki Washarti.
Di Malaysia saja, kasus perdagangan manusia Indonesia sudah beberapa kali terjadi, ungkap pejabat Indonesia di Kuala Lumpur.
"Tersangka utama bukan Warga Negara Indonesia. Yang bersangkutan adalah warga negara salah satu negara di Timur Tengah, namun ia memiliki kaki tangan di Indonesia," kata Hendra Satya Pramana, juru bicara KBRI di Kuala Lumpur.
Sulit diberantas?
Salah satu akar persoalan dari penyelundupan atau perdagangan manusia, kata Deddy, adalah kemiskinan.
Ia meminta semua pihak harus mengatasi persoalan ini, di antaranya melalui pemberdayaan dan penyediaan lapangan kerja.
"Perbaikan pendidikan di Indonesia dan penciptaan lapangan pekerjaan di Indonesia harus diperluas," katanya.
Sementara itu beberapa kalangan melihat lemahnya penegakan hukum atau lunaknya sanksi yang dijatuhkan, yang membuat tidak adanya efek jera bagi para pelaku penyelundupan manusia.









