Indonesia dalami kasus pembunuhan WNI di Hong Kong

Rurik Jutting yang duduk di mobil polisi datang di pengadilan dengan dakwaan pembunuhan.

Sumber gambar, REUTERS TV

Keterangan gambar, Rurik Jutting yang duduk di mobil polisi datang di pengadilan dengan dakwaan pembunuhan.

Pemerintah memastikan satu dari dua korban pembunuhan di Hong Kong adalah warga negara Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, mengatakan WNI tersebut tiba di Hong Kong menggunakan visa turis.

"Konsulat Jendral Indonesia di sana mengikuti terus kasus ini. Satu korban dipastikan WNI, sedangkan korban kedua masih dalam proses untuk memastikannya," kata Tene ketika dihubungi oleh BBC Indonesia.

Sebelumnya dilaporkan dua orang WNI yang diketahui bekerja sebagai pekerja seks komersial <link type="page"><caption> ditemukan tewas di sebuah apartemen</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/11/141102_hongkong_psk_indonesia" platform="highweb"/></link> milik pria Inggris Rurik Jutting.

Koresponden BBC di Hong Kong, Juliana Liu, mengatakan kasus pembunuhan misterus semacam ini sangat langka di Hong Kong yang relatif aman.

"Kasus pembunuhan besar terakhir terjadi pada 2003 lalu ketika seorang ibu rumah tangga asal Amerika Serikat, Nancy Kissel, membunuh suaminya, seorang bankir," lapor Juliana.

Namun yang menarik, sang suami bernama Robert Kissel ketika itu bekerja di Merrill Lynch. Perusahaan inilah yang juga mempekerjakan Rurik Jutting.

Dalam koper

"Menurut rekan-rekan, bankir Inggris memang sering berpesta sampai jam pagi," kata Juliana Liu.

Jutting tiba di pengadilan atas dakwaan pembunuhan dua WNI.
Keterangan gambar, Jutting tiba di pengadilan atas dakwaan pembunuhan dua WNI.

"Tapi mereka terkejut ketika Jutting didakwa dengan pembunuhan. Mereka mengatakan bahwa dia tampak begitu 'normal'."

"Gadis-gadis bar dari Wan Chai, di mana Jutting tinggal, juga terkejut."

Juliana melaporkan salah satu korban bernama Sumarti Ningsih dikenal sebagai Alice asal Cilacap, Jawa Tengah.

Sumiarti menggunakan visa turis dan telah melampaui masa visanya selama beberapa pekan. Jenazahnya dilaporkan ditemukan ditemukan di dalam sebuah koper.

Pekerja seks komersial pada umumnya memiliki risiko besar dalam pekerjaannya. Namun di kota-kota yang relatif aman seperti Hong Kong risiko itu dianggap minim.