Evo Morales diprediksi menang lagi

Evo Morales populer karena kebijakan-kebijakan populisnya, termasuk membangun sistem transportasi di La Paz.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Evo Morales populer karena kebijakan-kebijakan populisnya, termasuk membangun sistem transportasi di La Paz.

Kandidat petahana pemilihan presiden Bolivia, Evo Morales, diprediksi akan kembali mempertahankan jabatannya setelah hasil sejumlah jajak pendapat saat pilpres berlangsung menunjukkan dia meraih angka kemenangan mutlak.

Morales, sebagaimana disebut dalam sejumlah hasil jajak pendapat tidak resmi, meraih lebih dari 60% suara sekaligus meninggalkan empat kandidat saingannya.

Jajak pendapat yang digunakan ialah exit poll atau menanyai para pemilih yang baru saja keluar dari bilik pemungutan suara.

Sejauh ini, hasil resmi belum diumumkan karena seluruh kertas suara masih dalam proses penghitungan.

Di samping Morales, partai politik afiliasinya, Gerakan Menuju Sosialisme, juga diperkirakan menang telak sehingga mampu menduduki dua pertiga dari seluruh kursi di parlemen.

Pertumbuhan ekonomi

Popularitas Morales dan partainya, menurut wartawan BBC di Bolivia, Ignacio de los Reyes, didongkrak oleh kemampuan sang kandidat petahana dalam menangani perekonomian.

Selama memimpin sejak 2006, Morales memanfaatkan kenaikan harga-harga komoditas untuk mendorong pemasukan ekspor hingga sembilan kali lipat.

Pemasukan itu mendanai kebijakan-kebijakan yang membantu pertumbuhan ekonomi Bolivia mencapai 5%, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara Amerika Selatan.

<link type="page"><caption> Kebijakan populis</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/11/131121_bisnis_bolovia_bonus" platform="highweb"/></link> pun dia terapkan, semisal mendanai proyek transportasi di ibu kota La Paz dan mencabut 500.000 orang dari garis kemiskinan.

Namun, di balik kiprah positifnya, Morales dituding gagal menghentikan budaya korupsi dalam sistem pemerintahan.

Dia juga dituduh menggunakaan dana pemerintah sebesar jutaan dolar untuk mendanai kampanye presiden.