Gencatan senjata di Gaza diperpanjang

Sumber gambar, Reuters
Gencatan senjata di Gaza diperpanjang selama 24 jam setelah perundingan berlangsung di Kairo, Mesir, ujar sejumlah pejabat Palestina dan Israel kepada BBC.
<link type="page"><caption> Gencatan senjata sebelumnya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/08/140814_gaza_palestina.shtml" platform="highweb"/></link> diterapkan pada Rabu (13/08) lalu dan rampung Senin (18/08) tengah malam waktu setempat.
Melalui perpanjangan masa gencatan senjata, delegasi Palestina dan Israel akan bisa meneruskan negosiasi untuk gencatan senjata permanen.
<link type="page"><caption> Dalam perundingan di Kairo</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/08/140811_gaza_perundingan.shtml" platform="highweb"/></link>, juru runding Palestina, Qais Abdul Karim, mengatakan pihak Israel menginginkan jaminan bahwa milisi Hamas dan faksi-faksi lainnya di Gaza akan dilucuti.
Adapun pihak Palestina menghendaki pemerintah Israel dan Mesir membuka blokade terhadap Gaza tanpa syarat.
Sejauh ini, Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjata mereka. Sedangkan Israel berkeras tidak membuka blokade Gaza sepenuhnya lantaran khawatir milisi Hamas akan memanfaatkan perbatasan yang terbuka untuk menyelundupkan senjata.

Sumber gambar, AFP
Israel juga mengaku risau Hamas akan kembali membangun jaringan terowongan apabila impor bahan bangunan ke Gaza dilonggarkan.
Kehancuran luar biasa
Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Timur Tengah, Robert Serry, menyatakan PBB siap mengawasi pengiriman bahan bangunan ke Gaza.
Menurutnya, impor bahan bangunan krusial lantaran kehancuran luar biasa di Gaza telah meningkatkan kebutuhan kemanusiaan ke taraf yang belum pernah ada sebelumnya.
Serry kemudian mengutip data yang menyebutkan sekitar 16.800 unit rumah di Gaza hancur sehingga berdampak kepada 100 ribu warga Palestina.
Lebih jauh, lebih dari 100 fasilitas milik Badan PBB untuk pengungsi Palestina telah rusak.
Sejak serangan Israel memulai serangan ke Gaza pada 8 Juli lalu, sedikitnya 2.016 orang Palestina dan 66 orang Israel tewas.









