Korsel tolak penyelidikan gabungan drone

Sumber gambar, AFP
Pemerintah Korea Selatan menolak tawaran Korea Utara dalam melakukan penyelidikan gabungan terhadap tiga pesawat nirawak (drone) yang diyakini Seoul berasal dari Pyongyang.
“Tawaran itu tidak patut dipertimbangkan,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Kim Min-seok kepada wartawan sebagaimana dikutip kantor berita AFP.
Dia menuding pemerintah Korut, yang membantah mengirim pesawat nirawak ke Korsel untuk memata-matai, memutarbalikan fakta demi menutupi “aksi provokasi-provokasi mereka”.
Pekan lalu, militer Korsel menyatakan <link type="page"><caption> tiga pesawat nirawak</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/04/140411_worldkorsel.shtml" platform="highweb"/></link> yang ditemukan di dekat perbatasan Korsel-Korut dikirim Pyongyang.
Bangkai ketiga pesawat nirawak ditemukan di lokasi terpisah. Pesawat pertama ditemukan pada 24 Maret di Paju, sebelah selatan zona demiliterisasi yang memisahkan Korsel dan Korut.
Pesawat kedua teronggok di Pulau Baengnyeong saat Korut menggelar uji tembak dekat perbatasan maritim bagian barat pada 31 Maret.
Pesawat terakhir ditemukan oleh seseorang yang sedang mencari tanaman obat di Kota Sokcho pada awal Oktober 2013.
Tuduhan itu kemudian dibantah Pyongyang. Negara itu balik menuding Seoul telah memalsukan bukti-bukti demi mencemarkan nama Korut.
“Ini kebiasaan buruk pemerintah Korsel yang mengada-ngadakan kasus-kasus mengejutkan,” demikian pernyataan kelompok inspeksi Komisi Pertahanan Nasional Korut.
Pesawat nirawak
Berdasarkan laporan kantor berita Korsel, Yonhap, pesawat nirawak utama Korut ialah Panghyo’n I dam Panghyo’n II. Kedua pesawat yang dibuat dengan meniru pesawat D-4 milik militer China itu diproduksi sekitar 300 unit.
Korut juga mengoperasikan tipe VR-3 Reys dan Pchela-1 T. VR-3 Reys dilaporkan memiliki panjang 8 meter dengan kemampuan jelajah 90 kilometer, sedangkan Pchela-1 T sepanjang 2,78 meter dengan radius operasi sejauh 60 kilometer.

Sumber gambar, AFP
Pesawat nirawak yang jatuh di Paju mempunyai panjang 1,43 meter, rentang sayap sejauh 1,92 meter, dan bobot seberat 15 kilogram.
Pesawat nirawak yang jatuh di Pulau Baengnyeong memiliki panjang 2,45 meter, lebar 1,83 meter, dan berat 12,7 kilogram.
Kedua pesawat mampu mengangkut beban seberat 1 kilogram. Adapun kecepatan mereka mencapai 100-120 kilometer per jam dengan ketinggian 1-1,5 kilometer dan radius 150-200 kilometer.









