PM Thailand menepis pemilu dini

Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, menepis kemungkinan digelarnya pemilihan umum dini.
Kepada BBC dia mengatakan bahwa situasi di <link type="page"><caption> Thailand</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/thailand/" platform="highweb"/></link> saat ini tidak cukup tenang untuk menggelar pemilihan umum.
Hal itu ditegaskannya menanggapi unjuk rasa antipemerintah yang sudah berlangsung selama enam hari untuk menuntut pengunduran dirinya.
Dia juga menegaskan tidak akan memberikan wewenang untuk menggunakan kekuatan atas para pengunjuk rasa yang menduduki beberapa kantor pemerintah.
Hari Jumat 29 November, sekitar 1.000 pengunjuk rasa sempat menerobos kompleks markas besar militer di ibukota Bangkok walau tidak memasuki satu pun gedung di kompleks.
Wartawan BBC, Jonah Fisher, melaporkan dari kompleks militer tersebut bahwa para pengunjuk rasa duduk di lapangan rumput mendengarkan pidato dari para pemimpinnya sebelum meninggalkan kompleks dengan tenang.
Sehari sebelumnya, Yingluck sudah meminta agar unjuk rasa dihentikan setelah pemerintahannya lolos dari mosi tidak percaya.

Namun seruan itu ditolak oleh pemimpin oposisi, Suthep Thaugsuban, yang menuduh pemerintahan Yingluck dikendalikan abangnya Thaksin Shinawatra yang saat ini berada di pengasingan setelah digulingkan militer pada tahun 2006.
"Kami tidak akan membiarkan mereka bekerja lagi," tegas Thaugsuban, yang mengundurkan diri dari jabatan anggota parlemen.

Hingga saat ini unjuk rasa masih berjalan dengan damai dan pihak berwenang tampak menghindari konfrontasi dengan pengunjuk rasa.
Penentangan terhadap pemerintah berawal dari <link type="page"><caption> upaya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131112_thailand_amnesti_ruu_thaksin.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> pemerintah untuk meloloskan RUU Amnesti</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131112_thailand_amnesti_ruu_thaksin.shtml" platform="highweb"/></link> yang dinilai memungkinkan Thaksin kembali ke Thailand tanpa harus diadili.









