Distribusi bantuan korban Topan Haiyan masih bermasalah

Para pekerja kemanusiaan menggambarkan situasi suram masih terjadi di wilayah yang terkena dampak bencana topan Haiyan di Filipina.
Juru bicara Medecins Sans Frontieres mengatakan masalah distribusi bantuan masih menjadi masalah utama.
Meski demikian, koresponden mengatakan <link type="page"><caption> pesawat militer AS</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131114_filipina_topan_kapal_as.shtml" platform="highweb"/></link> mulai mendistribusikan bantuan ke kota Tacloban di Pulau Leyte, yang hancur akibat topan.
Pemerintah Filipina juga mulai menguburkan mayat para korban dan membersihkan jalanan.
Henry Gray, dari Medecins Sans Frontieres, mengatakan para pekerja kemanusiaan telah mengunjungi Guiuan, di bagian timur Samar, menggambarkan situasi yang dihadapi oleh 45.000 orang masih "suram".
"Apa yang kami lihat rumah sakit umum disana hancur," kata dia.
Gray menambahkan pejabat setempat telah meminta sumbangan untuk membantu sebuah klinik swasta lokal.
"Kami bergerak kesini secepatnya, tetapi masalah logistik sangat besar dan mereka tidak dapat diabaikan," kata dia.
Wartawan BBC Andrew Harding, melaporkan dari sekitar Guiuan, mengatakan setelah <link type="page"><caption> masalah perampokan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131113_philippines_topan_makanan.shtml" platform="highweb"/></link>, pasokan bantuan mulai berdatangan.
Jumlah korban tewas sampai Jumat (15/11) mencapai lebih dari 2.300, tetapi diperkirakan akan meningkat. Topan Haiyan merupakan badai dengan kekuatan besar yang pernah terjadi di Filipina.
Bantuan internasional berskala besar berdatangan untuk membantu wilayah yang terkena dampak. AS mengirimkan pesawat induk yang digunakan sebagai pusat pendistribusian bantuan bagi para korban.
<link type="page"><caption> Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/11/131113_bantuan_indonesia_filipina.shtml" platform="highweb"/></link> sendiri awal pekan ini telah mengirim bantuan sebesar US$2 juta (Rp23 miliar) dalam bentuk logistik dan uang tunai.









