Kapal imigran tenggelam, Malta protes UE

Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat mengatakan, perairan Eropa yang dekat ke benua Afrika berubah menjadi kuburan, setelah kapal yang dipenuhi imigran tenggelam.
Muscat mengatakan, Malta merasa "ditinggalkan" oleh negara-negara Eropa dan dia bersikeras Uni Eropa harus mengambil langkah-langkah tindakan.
Malta dan Italia melancarkan operasi penyelamatan setelah sebuah kapal yang mengangkut imigran tenggelam pada Jumat, serta menewaskan sedikitnya 27 orang.
Kecelakaan ini terjadi di perairan yang berjarak sekitar 120km dari Pulau Lampedusa, Italia, yang pada pekan lalu juga merupakan lokasi tenggelamnya sebuah kapal yang menewaskan setidaknya <link type="page"><caption> 300 orang pengungsi asal Afrika</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131008_italiaboat.shtml" platform="highweb"/></link>.
Jatuhnya banyak korban tewas dalam arus pengungsian di perairan Eropa ini telah membuka kembali perdebatan pada negara-negara anggota Uni Eropa tentang aturan imigrasi.
Dalam insiden terbaru, kapal yang membawa lebih dari 200 orang pengungsi diyakini telah mengalami kesulitan di perairan Malta, sebelum matahari terbenam pada Jumat.
Para migran menggunakan telepon satelit untuk meminta bantuan, tetapi kapal mereka terbalik ketika penumpang ramai-ramai pindah ke salah-satu sisi kapal, demi mendapat perhatian dari sebuah pesawat yang lewat di atasnya, kata angkatan laut Malta.
Sebelumnya pada Jumat, setidaknya 500 orang imigran yang berada di sebuah kapal, berhasil diselamatkan oleh tim penjaga pantai di dekat pulau Sisilia, Italia.
Pada hari yang sama, sebuah kapal tenggelam di dekat pelabuhan Iskandariyah, Mesir, yang merenggut nyawa setidaknya 12 orang imigran.
Para pejabat keamanan Mesir mengatakan, ada 116 orang yang sebagian besar warga Palestina dan Suriah, berhasil diselamatkan.
'Tanpa ada tindakan'
PM Malta Muscat mengatakan, tindakan cepat yang dilakukan Malta dan Italia telah menyelamatkan banyak nyawa, tetapi dia mengeluhkan "negara-negara Eropa yang hanya berbicara tanpa ada tindakan."

"Sekarang para politisi berpikir tentang bagaimana mengetatkan atau melonggarkan aturan imigrasi. Dalam kasus kami, keprihatinan utama kami adalah nasib orang-orang yang terkatung-katung di laut," katanya.
"Kami merasa ditinggalkan oleh Eropa. Saya tidak tahu berapa banyak orang harus tewas di laut sebelum ada langkah penyelamatan."
"Kami akan memastikan bahwa suara kami harus didengar pada pertemuan Dewan Eropa berikutnya. Aturan perlu diubah," tegasnya.
Dan, Muscat kemudian berkata: "Kami saat ini seperti sedang membangun kuburan di perairan Mediterania."
Setelah tragedi kapal tenggelam yang mengangkut imigran di Lampedusa, Italia, pada pekan lalu, Komisi Eropa menyerukan agar negara-negara Eropa mulai melakukan patroli bersama untuk mencegat kapal imigran.
Pulau Lampedusa, yang berjarak 290km dari lepas pantai Afrika Utara, merupakan <link type="page"><caption> tujuan utama bagi kapal-kapal imigran</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131004_italia_berkabung.shtml" platform="highweb"/></link> menuju Eropa.
Puluhan ribu orang telah berusaha menempuh perjalanan berbahaya ke Lampedusa, Sisilia dan pulau-pulau lain di perairan Italia, setiap tahunnya.
Operasi penyelamatan terbaru mengayunkan ke dalam tindakan setelah angkatan udara Malta melihat perahu dan memperingatkan kapal angkatan laut Italia masih di daerah pasca bencana Kamis lalu .









