Belanda minta maaf terkait penahanan diplomat Rusia

Den Hag
Keterangan gambar, Dmitry Borodin bertugas di kantor Kedutaan Besar Rusia di Den Haag.

Pemerintah Belanda sudah mengajukan permintaan maaf ke Moskow karena menahan seorang diplomat Rusia di Den Haag.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda mengakui bahwa penangkapan atas Dmitry Borodin melanggar kekebalan diplomatik yang dijamin oleh konvensi internasional.

"Berdasarkan informasi polisi, Menteri Luar Negeri Frans Timmermans menyimpulkan bahwa penangkapan diplomat Rusia melanggar Konvensi Wina," seperti tertulis dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri kepada para wartawan.

Borodin -yang bertugas di kantor Kedutaan Besar Rusia di Den Haag- mengatakan bahwa dia dipukuli polisi saat penangkapannya.

Namun pemerintah Belanda berpendapat kepolisian sudah bertindak secara profesional dan bertanggung jawab dalam penahanan itu.

"Belanda dan Rusia tetap melakukan kontak sehubungan dengan penyelesaian lebih lanjut atas insiden ini."

Hubungan menegang

Tidak ada keterangan resmi dari polisi tentang penangkapan Borodin namun media melaporkan dia ditangkap karena mabuk dan nyaris tidak bisa berdiri sendiri setelah tetangganya melaporkan dia memperlakukan secara buruk kedua anaknya.

Presiden Rusia, Vladimir Putin -saat menghadiri KTT APECdi Bali- <link type="page"><caption> mendesak agar Belanda meminta maaf</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131009_putin_belanda_maaf.shtml" platform="highweb"/></link> atas penangkapan Borodin.

Hubungan Belanda dan Rusia belakangan menegang setelah <link type="page"><caption> Rusia menahan aktivis Greenpeace,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131003_rusia_greenpeace.shtml" platform="highweb"/></link> yang berada di kapal berbeda Belanda, <italic>Arctic Sunrise</italic>, dan dari 30 awak Greenpeace yang sudah didakwa adalah warga Belanda.

Belanda sudah menempuh upaya hukum untuk membebaskan para aktivis tersebut yang didakwa melakukan pembajakan setelah melakukan <link type="page"><caption> protes terhadap eksplorasi di Kutub Utara,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/08/120824_greenpeace.shtml" platform="highweb"/></link> yang melibatkan perusahaan negara Rusia, Gazprom.

Dan ketegangan ini terjadi pada saat yang kurang tepat, menjelang kunjungan Raja Willem Alexander ke Rusia pada 9 November mendatang.