Imam besar Al-Azhar upayakan rekonsiliasi

egypt sitting
Keterangan gambar, Pendukung Presiden Mesir terguling Mohammed Morsi melawan ancaman pembubaran paksa yang datang dari penguasa militer setempat.

Prihatin dengan berlarut-larutnya situasi kekacauan politik di Mesir, imam besar al-Azhar, satu institusi Islam terbesar di negara itu, kini mulai memanggil pihak-pihak yang berseberangan untuk segera mengakhiri krisis politik.

Imam besar al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayyib, berharap bisa mengadakan pertemuan untuk rekonsiliasi nasional.

Selama tiga hari terakhir, jumlahnya korban terus membengkak di dua kamp protes dimana orang menuntut kembalinya Presiden terguling Mohammed Morsi.

Pemerintah sementara yang didukung militer mengatakan polisi akan membubarkan arena protes itu guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.

Lebih dari 250 orang yang sebagian besar adalah pendukung Morsi, tewas dalam bentrokan sejak militer menggulingkan pemimpin pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir pada 3 Juli ini.

Minggu lalu, Presiden Interim <link type="page"><caption> Mesir, Adly Mansour, menganggap</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/08/130807_mesir_mediasi.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> upaya rekonsiliasi yang digagas negara-negara</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/08/130807_mesir_mediasi.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa telah gagal. </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/08/130807_mesir_mediasi.shtml" platform="highweb"/></link>

Mansour mengatakan Ikhwanul Muslimin, yang adalah pendukung Morsi, "benar-benar bertanggung jawab atas kegagalan," serta "peristiwa yang berkaitan dengan pelanggaran hukum dan membahayakan keselamatan publik."

Terpecah

Sabtu kemarin, pihak resmi al-Azhar telah bertanya kepada para petinggi politik di Mesir untuk bertemu dalam rekonsiliasi nasional yang akan diawasi oleh imam besar mereka.

Mereka mengatakan anggota Partai Keadilan dan Kemerdekaan yang terkait Ikhwanul Muslimin dan para pemimpin Islamis lainnya termasuk yang diundang untuk datang.

Al-Azhar, sebagai suatu institusi yang sangat dihormati, telah beberapa kali berhasil menyatukan berbagai kekuatan politik yang berbeda sejak pergerakan tahun 2011 yang menjatuhkan presiden Hosni Mubarak, wartawan BBC di Kairo, Yolande Knell melaporkan.

Namun, kali ini tugas tersebut menjadi sangat sulit, kata koresponden kami.

Imam besar ini secara terbuka mendukung intervensi militer untuk menggulingkan Morsi setelah protes massal di jalan, yang membuat marah para pendukungnya, dan negara ini sekarang sangat terbagi dua, ia menambahkan.

Sebelum liburan empat hari Idul Fitri, yang menandai akhir bulan suci Ramadhan, Perdana Menteri Interim Hazem Beblawi mengumumkan bahwa keputusan untuk membubarkan aksi duduk diam pendukung Morsi di luar masjid Rabaa al-Adawiya masjid dan dekat Universitas Kairo adalah final.

"Pemerintah ingin memberikan demonstran, terutama yang berpikiran sehat di antara mereka, kesempatan untuk berdamai dan mengemukakan alasan," kata Beblawi di televisi pemerintah pada Kamis (09/09) lalu.