Polisi jaga ketat sekolah muslim yang dibakar di Burma

Polisi menjaga ketat sekitar lokasi kebakaran di sekolah Muslim di ibukota Rangoon, yang menewaskan 13 anak pada Senin (1/4) pagi.
Lebih dari 70 orang menginap di sekolah itu pada saat kejadian namun tak diketahui kenapa pintu dan gerbang terkunci sehingga mereka tak bisa keluar, terjebak dan kehabisan oksigen akibat asap.
Aparat setempat menyebut insiden ini adalah kecelakaan biasa, tak berhubungan dengan meningkatnya ketegangan antara kelompok Muslim dan Buddha yang pada beberapa pekan terakhir dikabarkan makin meluas.
Meski demikian polisi juga mengerahkan pasukan antihuru-hara ke lokasi kejadian di mana komunitas Muslim yang sedang berkabung berkumpul.
Kepala Polisi distrik timur Kota Rangoon, Letnan Kolonel Myint Aye, seperti dikutip kantor berita Reuters membantah situasi akan memanas dengan aksi kekerasan selanjutnya.
"Tidak ada alasan kenapa insiden ini akan berlanjut. Kami juga tak boleh membiarkannya meluas. Kami akan mencegah dan membereskan bahkan kalau ada sesuatu yang terjadi nanti," katanya menjamin.
Letkol Aye juga mengatakan personelnya tak perlu ragu bagaimana bersikap dalam menangani insiden seperti ini.
"Pasukan polisi Burma tidak perlu ragu mengambil tindakan (kalau ada masalah)."
Dibahas OKI
Di tengah kerumunan keluarga dan sanak para korban, komunitas Muslim setempat minta agar aparat bertindak tegas mengatasi masalah ini.
Pemimpin komunitas, Thein Win Htun, mengisyaratkan pihaknya akan bersikap tenang menghadapi tragedi ini.
"Burma adalah rumah kami. Tidak penting apa pun yang terjadi di negeri ini, saya tetap menganggapnya sebagai masalah keluarga kami," katanya seperti dikutip Reuters.
Namun ia juga menegaskan komunitas Muslim setempat merasakan adanya 'dorongan' untuk berkonflik.
"Ada dorongan dari luar untuk menimbulkan masalah. Tapi saya tidak merasa dan tidak berpikir situasi ini akan memunculkan masalah lebih besar."
Konflik sektarian Muslim-Buddha di Burma makin menjadi sejak perselisihan tak berkesudahan antara warga suku Rohingya yang Muslim dengan penganut Buddha menimbulkan tragedi kemanusiaan sejak tahun lalu.
Ribuan orang melarikan diri tanpa bekal memadai sebagian besar melalui jalur laut dan kemudian tewas akibat hambatan di jalan.
Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI) Ekmeleddin Ihsanoglu Senin kemarin mendarat di Kairo dari kunjungan ke Jeddah dan menyatakan OKI menyiapkan sebuah pertemuan pada 14 April mendatang untuk membahas masalah kekerasan terhadap Muslim di Burma.
Pertemuan setingkat Menteri Luar Negeri itu diharapkan akan membawa solusi sebagai bantuan untuk warga Muslim di Burma di mana OKI menurut Ihsanoglou 'siap mengambil tindakan apa pun' untuk menghadapinya.









