Demo anti korupsi di Pakistan ricuh

Polisi di Islamabad melepaskan tembakan ke udara dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan pemrotes anti korupsi dalam demonstrasi yang dipimpin oleh tokoh agama Tahirul Qadri.
Bentrokan terjadi setelah para demonstran melemparkan batu ke pasukan keamanan yang berada di luar gedung parlemen.
Qadri, yang meminta reformasi pemilu, meninggalkan Lahore pada Minggu (13/1) dengan ribuan pendukung, dan tiba di Islamabad pada Senin (14/1) malam.
Pemerintah menuduh dia mencopa untuk menunda pemilu yang akan berlangsung pada Mei nanti.
Pemimpin kelompok Sunni itu menginginkan militer dan penegak hukum untuk terlibat dalam menyusun sebuah pemerintah sementara untuk mengawasi pemilu mendatang.
Pemerintah akan bubar pada Maret nanti dan pemilu harus dilakukan dalam kurun waktu enam pekan.
Siaran langsung dari televisi pada Selasa (15/1) menunjukkan polisi menembakkan senjata ke udara untuk membubarkan demonstran yang melemparkan batu ke arah petugas keamanan.
Juru bicara Qadri mengatakan kepada kantor berita Reuters, bahwa para demontran mencoba menghalangi petugas untuk menahan pemimpin mereka.
Laporan menyebutkan korban luka belum dapat diverifikasi secara independen.
'Penganut demokrasi'

Sebelumnya, otoritas Pakistan mengatakan Qadri dan pendukungnya tidak akan diijinkan masuk ke pusat kota. Pemerintah juga telah memperingatkan bahwa militan dapat mengincar para demonstran.
Skeitar 15.000 personil polisi tambahan diterjunkan dan sebagian besar wilayah di ibukota ditutup.
Pada Senin malam, Qadri berbicara di depan puluhan ribu pendukungnya dan meminta agar majelis provinsi untuk mencari cara untuk membentuk pemerintahan sementara.
Dia ingin kebijakan itu dibuat untuk mencegah orang-orang yang korup atau kriminal untuk menjadi kandidat yang akan dipilih dalam pemilu mendatang.
"Secara moral, pemerintahan anda dan perwakilan anda telah berakhir malam ini," kata dia di panggung di jalan raya Jinnah, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari parlemen.
"Saya akan memberi (pemerintah) batas waktu sampai besok untuk membubarkan parlemen federal dan majelis provinsi. Setelah itu, majelis rakyat disini akan mengambil keputusan mereka sendiri."
Dalam perjalanan menuju Islamabad, sekitar 10.000 orang bergabung dalam konvoi mobil, bus dan truk, kerumunan massa juga hadir di sepanjang jalan untuk menyambut tokoh agama ini.
Tahirul Qadri merupakan pemimpin agama yang memiliki gaya flamboyan dan kampanye secara besar-besaran di televisi meningkatkan popularitasnya di Pakistan selama beberapa pekan terakhir.
Tetapi spekulasi bahwa dia mendapatkan dukungan dari militer juga menyebar secara luas, dan digunakan oleh tentara untuk mengambil alih politik Pakistan.
Qadri membantah tuduhan tersebut." Saya tidak memiliki hubungan dengan institusi militer," kata dia kepada Reuters.
"Saya merupakan penganut setia ... dari demokrasi di seluruh dunia."
Ulama ini dulu merupakan pendukung mantan kepala militer Pervez Musharraf ketika mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 1999 lalu, dan menjadi anggota majelis nasional sebelum pindah ke Kanada, dimana dia melakukan kegiatan sosial.
Pada Desember lalu, dia kembali ke Pakistan dan dapat memobilisasi puluhan ribu pendukung dalam demonstransi di Lahore, tetapi tak jelas berapa banyak pendukunga di seluruh wilayah negara tersebut.









