Unjuk rasa mendukung wartawan di Cina berlanjut

Unjuk rasa mendukung wartawan yang menentang sensor di kota Guangzhou, Cina, berlanjut dan memasuki hari kedua.
Laporan-laporan menyebutkan sejumlah orang datang ke kantor mingguan Southern Weekly, Selasa 8 Januari, dan beberapa diantaranya mengenakan topeng dan penutup mulut.
Sebagian pengunjuk rasa membawa bunga sebagai pertanda duka atas apa yang mereka sebut sebagai kebebasan pers di <link type="page"> <caption> Cina</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/cina/" platform="highweb"/> </link>.
Masalah ini berawal dari pesan tahun baru di surat kabar yang juga disebut Southern Weekend itu diubah oleh pihak manajemen sesuai dengan instruksi dari departemen propaganda pemerintah Provinsi Guangdong.
Para wartawan tidak setuju dengan perubahan pesan yang maknanya berbeda dengan pesan yang sudah mereka siapkan.
Mereka kemudian <link type="page"> <caption> menggelar aksi unjuk rasa</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/01/130107_wartawan_cina_mogok.shtml" platform="highweb"/> </link> yang jarang terjadi di Cina dan menentang agar kepala departemen propaganda provinsi itu, Tuo Zhen, mengundurkan diri.
Dianggap sebagai dukungan

Menanggapi kasus itu, harian Global Times -yang merupakan bagian dari media resmi pemerintah, Harian Rakyat, menerbitkan tajuk rencana yang isinya antara lain mengatakan bahwa insiden perubahan pesan bukan dilakukan oleh pejabat pemerintah provinsi.
Tajuk rencana tersebut kemudian diterbitkan kembali oleh beberapa media namun beberapa media internet menambahkan pesan bahwa 'pemuatannya tidak berarti isi pesan sejalan dengan pendapat mereka.'
Pernyataan seperti itu tidak bisa dilakukan oleh media di Cina.
Sementara media cetak yang tidak menerbitkan kembali pesan dari Global Times, yang bisa diartikan sebagai dukungan atas para wartawan di Southern Weekly
Kantor berita AFP melaporkan para wartawan sudah melakukan pembicaraan dengan pejabat departemen propaganda sehubungan dengan insiden ini.









