Mesir gelar referendum kedua

Warga Mesir mulai memberikan suara dalam referendum konstitusional kedua yang menyebabkan kekerasan dalam beberapa pekan terakhir.
Sekitar 250.000 pasukan keamanan dikerahkan untuk menjaga referendum.
Lawan politik Presiden Mohammed Morsi menggelar aksi besar menuntut referendum dibatalkan karena konstitusi baru dianggap menguntungkan Islamis.
Pendukung utama Morsi yang kebanyakan adalah Islamis mengatakan konstitusi akan mengembalikan stabilitas dan demokrasi.
Ketegangan terkait pelaksanaan referendum ini semakin memicu kekerasan yang telah berlangsung selama beberapa pekan, termasuk kekerasan di Alexandria, Jumat (21/12) kemarin.
Politisi oposisi mengatakan kekerasan lanjutan kemungkinan besar akan kembali terjadi.
"Saya melihat ada banyak kekerasan lagi,'' kata Ahmed Said, kepala Pembebasan Mesir, seorang tokoh liberal dan anggota koalisi oposisi.
Dia mengatakan ada ''pelanggaran serius'' di hari pertama pemungutan suara dan kemarahan kepada presiden terus meningkat.
Referendum pertama berlangsung 15 Desember di 10 dari 27 provinsi.
Dan hari ini giliran 17 provinsi yang belum memberikan suara di putaran pertama.
Kawasan tersebut dipandang lebih konservatif dan simpatisan gerakan Islamis Morsi, Ikhwanul Muslimin.
Pengamat memperkirakan mereka akan memberikan suara setuju.
'Instabilitas'

Jika konstitusi lolos, pemilu parlemen akan berlangsung dalam tiga bulan mendatang.
Angka tidak resmi menyebutkan sekitar 56% menyetujui rancangan konstitusi ini.
Tokoh utama oposisi Mohammed ElBaradei mendesak warga untuk memberikan suara penolakan.
"Kita tahu jika konstitusi ini lolos, akan terjadi instabilitas,'' katanya.
Hasil resmi referendum akan diumumkan Senin mendatang.
Krisis terbaru Mesir dimulai 22 November saat Morsi mengeluarkan dekrit yang memberinya kekuasaan besar.
Dekrit itu melucuti kekuasan hakim untuk menentang keputusannya.
Setelah mendapat tekanan publik, Morsi membatalkan dekrit.
Tetapi dia menolak mundur dari pengajuan rancangan undang-undang konstitusi yang baru.
Sejak saat itu Mesir kembali diwarnai aksi demonstrasi besar dari kedua belah pihak.
Jumat kemarin, Islamis bertikai dengan pesaing sekuler di Alexandria, mereka saling lempar batu di luar sebuah masjid.
Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan pertikaian.
Kantor berita Mesir mengutip kementerian kesehatan menyebutkan 32 orang terluka dalam insiden tersebut.









