Mesir melaksanakan referendum atas RUU

referendum mesir
Keterangan gambar, Seorang wanita memberikan suara dalam referendum Mesir

Rakyat Mesir memberikan suara mereka dalam referendum rancangan undang-undang yang telah memecah belah negara itu.

Presiden Mohammed Morsi dan partai Ikhwanul Muslimin selama ini gencar berkampanye mendukung RUU yang menurut oposisi dirancang dengan ceroboh dan terlalu Islami.

Pemungutan suara berlangsung di Kairo, Alexandria dan delapan provinsi lainnya, sepekan sebelum dilakukan secara nasional. Sekitar 250 ribu personil keamanan dikerahkan untuk memastikan situasi kondusif.

Lebih dari 51 juta orang terdaftar sebagai pemilih sah.

Jajak pendapat harus diperluas sebab hanya sedikit hakim yang bersedia mengawasi referendum ini.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengutarakan ketakutan mereka bahwa hasil dari putaran pertama dapat mengubah opini mereka yang memberikan suara di putaran kedua.

Mobil dibakar

Referendum itu meminta rakyat Mesir untuk menerima atau menolak dokumen dasar yang sudah harus disahkan sebelum pemilu dilaksanakan awal tahun depan.

Wartawan BBC Jon Leyne di Kairo mengatakan oposisi dari RUU ini berargumen bahwa RUU cenderung menerapkan hukum Islam.

Ia mengatakan referendum itu lebih dari sekedar jajak pendapat. Even ini adalah masa depan Mesir, apakah akan menjadi negara Islam atau negara sekuler.

Kedua belah pihak mengerahkan para pendukung mereka dalam unjuk rasa terakhir hari Jumat.

Bentrokan terjadi di kota Alexandria ketika para aktivis berkelahi dengan kayu, batu dan senjata lainnya.

Sejumlah mobil di bakar dan 15 orang terluka.

Kekerasan pecah setelah seorang ulama di sebuah masjid mendorong jamaah agar mendukung RUU itu.

Hari ini keamanan diperkirakan akan sangat rentan di Mesir setelah Presiden Morsi memberikan tentara wewenang untuk menangkap warga sipil.