Clinton mendesak Sudan akhiri pertikaian

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mendesak Sudan Selatan dan Sudan agar mengakhiri pertikaian yang telah membuat mereka berada di ambang peperangan.
Clinton mengadakan kunjungan singkat ke ibukota Sudan Selatan, Juba, hari Jumat. Dia adalah pejabat tertinggi Amerika yang mengadakan kunjungan resmi ke Sudan Selatan sejak negeri itu memperoleh kemerdekaan Juli tahun lalu.
Batas waktu yang diberikan PBB kepada kedua negara untuk menyelesaikan pertikaian perbatasan dan soal minyak berlalu hari Kamis 2 Agustus.
Sudan Selatan adalah negara kedua yang dikunjungi Clinton dalam lawatannya ke tujuh negara Afrika.
"Sementara Sudan Selatan dan Sudan telah menjadi negara terpisah, nasib dan masa depan mereka tetap terkait erat," kata Clinton seusai bertemu dengan Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir.
"Sangatlah mendesak bagi kedua pihak, utara dan selatan, untuk melaksanakan dan mencapai kesepakatan tentang berbagai masalah yang masih ada," tambahnya.
Menurut Clinton, kedua negara perlu berkompromi untuk menutup berbagai kesenjangan yang masih ada di antara mereka.
Ekspor minyak berhenti

Sumber gambar, AFP
Kunjungan Clinton ke Sudan Selatan terjadi hampir sebulan setelah negeri baru itu merayakan ulangtahun pertama kemerdekaannya, yang terwujud melalui suatu pakta perdamaian pada tahun 2005 antara Sudan dan para pemberontak di wilayah bagian selatan.
Ketika Sudan Selatan memisahkan diri dari Sudan pada tanggal 9 Juli 2011, mereka mengambil tiga-perempat dari cadangan minyak, namun semua pipa untuk menyalurkan minyak untuk ekspor melalui wilayah utara.
Pertikaian tentang berapa Sudan Selatan harus membayar untuk penggunaan lintasan ekspor minyak ini masih belum terpecahkan, sehingga Juba menghentikan ekspor sama sekali sejak Januari.
Langkah tersebut menyebabkan kesulitan perekonomian pada kedua negara, yang anggarannya tergantung pada penghasilan dari minyak.
Kedua negara hampir saja berperang pada bulan April lalu, ketika tentara Sudan Selatan menduduki Heglig, kawasan perbatasan yang kaya akan minyak. Tetapi pendudukan itu tidak lama.
Perundingan antara keduanya di ibukota Ethiopia, Addis Ababa, yang bertujuan untuk menyelesaikan persoalan saat ini mengalami kebuntuan.









