Hukuman mati untuk tentara Afghistan

Sumber gambar,
Seorang tentara Afghanistan yang membunuh lima tentara Prancis pada bulan Januari diganjar dengan hukuman mati oleh pengadilan militer.
Abdul Saboor melepas tembakan ke pasukan Prancis dalam operasi bersama di sebuah kawasan terpencil di Provinsi Kapisa. Dia kemudian berhasil dilumpuhkan sebelum melarikan diri.
Dalam insiden tanggal 20 Januari tersebut, para pejabat militer mengatakan Saboor melepas tembakan setelah terjadi perdebatan, ketika pasukan Prancis dan Afghanistan sedang memburu seorang komandan Taliban setempat.
Empat tentara Prancis langsung tewas di tempat sedangkan satu lagi belakangan karena menderita cedera berat sementara sejumlah tentara lain luka-luka.
Sabbor dilaporkan sempat menembakkan sampai 120 peluru sebelum dilumpuhkan.
Beberapa hari setelah insiden penembakan tersebut Prancis mengumumkan akan mempercepat penarikan mundur pasukannya dari Afghanistan.
Prancis merupakan negara penyumbang tentara terbesar yang kelima untuk pasukan NATO di Afghanistan.
Masalah perekrutan?
Insiden penembakan pasukan NATO oleh tentara Afghanistan belakangan ini semakin sering terjadi.

Sumber gambar, AP
Sepanjang tahun ini terdapat 18 insiden penembakan tentara asing -yang disebut dengan istilah 'hijau membunuh biru'- yang mengakibatkan korban jiwa 26 orang. Insiden 'hijau membunuh biru' ini menyebabkan turunnya semangat tentara asing di Afghanistan.
Wartawan BBC di Kabul, Bilal Sawary, mengatakan bahwa dokumen-dokumen memperlihatakan Saboot sudah dua kali bergabung dengan tentara.
Dia dalam status desersi ketika mengajukan permohonan kedua dengan menggunakan data palsu. Selain itu disebut Saboor juga pernah menghadapi masalah kejiwaan, yang tidak diungkapkannya ketika melamar untuk jadi tentara.
Bagaimanapun Saboor boleh mengajukan banding atas hukuman mati yang dijatuhkan padanya.
Pasukan internasional sudah menegaskan akan meningkatkan proses rekrutmen dengan menerapkan tes biometrik untuk mengurangi insiden 'hijau membunuh biru.'
Dalam insiden terakhir, awal bulan ini, tiga tentara Ingris ditembak oleh seorang pria yang mengenakan seragam polisi di Provinsi Helmand.
Walau Taliban sering mengaku bahwa mereka berada di belakang penembakan tentara asing, para pengamat mengatakan banyak insiden yang dipicu oleh kesalahpahaman maupun pertengkaran yang bersifat pribadi.
Dalam kasus Saboor, pengadilan tidak mengungkap dengan jelas motivasinya saat melepas tembakan ke arah pasukan Prancis.









