Kofi Annan bertemu Presiden Suriah

Suriah
Keterangan gambar, Kekerasan di Suriah terus berlangsung, dan sekitar 15.000 orang tewas sejak setahun yang lalu.

Utusan Liga Arab dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan, akan bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus untuk membicarakan enam poin rencana perdamaian.

Pertemuan itu digelar setelah Annan menyatakan bahwa rencana untuk mengakhiri kekerasan di Suriah telah gagal.

Sepekan lalu, sebuah pertemuan internasional mendesak untuk dilaksanakannya pemerintahan transisi Suriah.

Assad menuduh AS berupaya membuat kondisi Suriah tidak stabil, dengan memberikan perlindungan politik kepada 'geng' di negaranya.

Juru bicara Menteri Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi, mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa pembicaraan akan fokus kepada enam rencana perdamaian yang dimediasi Annan pada awal tahun ini.

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan Sabtu (7/7), Kofi Annan mengatakan kepada koran Prancis Le Monde bahwa rencana perdamaian bagi Suriah "gagal" untuk mengakhiri pertumpahan darah.

Sehari sebelumnya, dia merekomendasikan dalam laporannya ke Dewan Keamanan bahwa misi PBB untuk memantau gencatan senjata di Suriah seharusnya berganti fokus kepada mediasi politik.

Tuduhan Assad

Bashar Assad

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Presiden Suriah: negara yang ingin merusak rencana perdamaian Annan.

Wartawan BBC di Lebanon, yang bertetangga dengan Suriah, Jim Muir mengatakan bahwa setelah upaya untuk memuluskan jalan bagi dialog politik, dengan mengakhiri kekerasan telah gagal.

Sekarang yang diperhatikan adalah upaya untuk mendapatkan solusi politik.

Kelompok oposisi meminta agar Assad dan sekutunya tidak dilibatkan dalam pemerintahan transisi, tetapi presiden Suriah itu menyatakan tidak akan turun dari jabatannya.

Dalam wawancara dengan televisi pada Minggu (8/7), Presiden Assad mengatakan enam poin rencana perdamaian Annan "sangat baik", tetapi dirusak oleh sejumlah negara, termasuk AS.

"Satu hambatan besar bahwa banyak negara tidak ingin rencana ini sukses jadi mereka menawarkan dukungan politik untuk kelompok teroris di Suriah dengan senjata dan uang," kata Assad kepada media Jerman ARD.

Dia mengatakan bahwa Arab Saudi dan Qatar memasok persenjataan bagi kelompok teroris di negaranya, dan Turki memberikan dukungan logistik.

Assad juga mengatakan dia yakin bahwa mayoritas masyarakat Suriah mendukungnya.

Ketegangan di perbatasan Suriah -Turki semakin meningkat menyusul penembakan jet Turki bulan lalu.

Sejumlah oposisi Suriah telah meminta adanya intervensi militer asing untuk menurunkan pemerintah Assad.

Pekan lalu, Turki mulai mengirimkan peluncur roket dan persenjataan berat ke perbatasan untuk merespon penembakan pesawatnya pada 22 Juni lalu.

Sementara itu, kekerasan di Suriah meningkat pada Minggu (8/7), sekitar 11 orang dilaporkan tewas, menurut Komite Koordinator Lokal LCC, sebuah jaringan aktivis di dalam Suriah.

Sekitar 15.000 orang tewas sejak pecahnya protes anti pemerintah yang telah berlangsung lebih dari satu tahun.