Ratusan pencari suaka berhasil diselamatkan

Sumber gambar, Getty
Lebih dari 120 orang berhasil diselamatkan setelah sebuah kapal terbalik di utara Pulau Christmas.
Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan sekitar 123 hingga 133 orang diyakini berada di dalam kapal saat terbalik Rabu (27/06) pagi.
Dua kapal Angkatan Laut Australia dikerahkan untuk menyelamatkan korban.
"Diyakini sekitar 123 hingga 133 orang berada di dalam kapal,'' kata Gillard. ''Saya diberitahu bahwa 123 orang berhasil diselamatkan,'' tambahnya.
Sebuah gambar kapal sebelum tenggelam yang diambil oleh salah satu kapal yang melintas lokasi dan dirilis oleh Otoritas Keselamatan Maritim Australia menunjukkan kerumunan orang diatas dek kapal.
Negosiasi buntu
Insiden ini merupakan yang kedua dalam satu pekan terakhir, sebelumnya pekan lalu sebuah kapal pengangkut para pencari suaka juga tenggelam di sekitar Pulau Christmas, yang merupakan wilayah perairan Australia.
Kapal itu diyakini membawa sekitar 200 orang. 110 berhasil diselamatkan dan 17 mayat ditemukan.
50 pencari suaka juga tewas saat kapal mereka menghantam karang di Pulau Christmas, Desember 2010 silam.
Pulau Christmas berada di barat laut lepas pantai Australia. Lebih dekat dengan Indonesia ketimbang Australia, dan menjadi target para pencari suaka untuk bisa masuk ke wilayah Australia.
Kapal yang mengangkut imigran gelap ini seringkali kelebihan muatan dan dalam kondisi buruk. Desember 2010 sekitar
Serangkaian insiden terbaru ini menimbulkan perdebatan kembali terkait kebijakan pencari suaka Australia yang mengalami kebuntuan.
Pemerintah Australia telah memperbarui permintaan untuk kesepakatan pertukaran pengungsi dengan Malaysia untuk mencegah penyelundupan manusia.
Di bawah kesepakatan tersebut, Australia akan mengirim 800 pencari suaka yang tiba dengan kapal ke Malaysia dan akan menerima 4.000 pengungsi dalam empat tahun.
Tetapi kesepakatan itu ditentang oposisi yang mendesak agar pusat tahanan imigrasi di Nauru kembali dibuka.
Partai Buruh yang berkuasa dan Liberal selaku oposan mengalami kebuntuan dalam negosiasi atas nasib para pencari suaka yang datang dengan kapal selama berbulan-bulan.









