David Cameron mengundang Aung San Suu Kyi ke Inggris

Sumber gambar, Getty
Perdana Menteri Inggris mengatakan dia mengundang tokoh demokrasi Burma, Aung San Suu Kyi, untuk berkunjung ke Inggris tahun ini.
Hal itu disampaikan Cameron setelah bertemu dengan peraih Nobel Perdamaian tersebut di Rangoon.
Sebelumnya Cameron melakukan pertemuan dengan Presiden Thein Sein di ibukota Naypidaw dan meminta pemerintah Burma menunjukkan bahwa gerakan menuju demokrasi tidak bisa dibalikkan kembali.
David Cameron merupakan pemimpin Barat pertama yang bertemu dengan Aung San Suu Kyi setelah dia menang dalam pemilihan sela parlemen pada 1 April lalu.
Dalam lawatannya ke Burma, Cameron juga menyerukan agar semua embargo ke Burma dicabut, kecuali embargo senjata.
"Saya kira ada prospek perubahan di Burma dan saya kira tepat bagi seluruh dunia untuk menanggapi perubahan tersebut," tuturnya kepada para wartawan.
"Tentu saja kita harus menanggapi dengan hati-hati dan teliti. Kita harus selalu ragu dan mempertanyakan karena ingin agar perubahan itu tidak bisa dibalikkan lagi. Namun untuk dibahas, saya kira tepat mencabut sanksi yang ada terhadap Burma."
Jalan panjang
Sanksi yang dijatuhkan atas pemerintah Burma oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa antara lain mencakup pembekuan aset atas 500 pemimpinnya dan berbagai pembatasan perdagangan.
Uni Eropa sudah mencabut sejumlah sanksi atas pemrintah Burma dan akan membahas langkah lebih lanjut dalam pertemuan menteri luar negerinya pada 23 April mendatang.
Aung San Suu Kyi menyambut baik seruan itu dan mengatakan pencabutan embargo akan memperkuat tangan para reformis.
"Kami masih menghadapi jalan yang panjang namun kami yakin bahwa akan tiba di sana. Saya yakin Thein Sein sungguh-sungguh dalam reformasi demokrasi."
Suu Kyi dikenakan tahanan rumah selama hampir 20 tahun dan baru dibebaskan setelah pelaksanaan pemilihan umum 2010.
Pemilihan itu menghasilkan pemerintah sipil pertama sejak rezim militer merebut kekuasaan tahun 1988 dan membatalkan pemilihan umum tahun 1990 yang dimenangkan partai Liga Nasional Demokrasi yang dipimpin Suu Kyi.
Sejak terpilih, partai yang memerintah -yang mendapat dukungan militer- menempuh sejumlah upaya reformasi, antara lain pembebasan tahanan politik dan mengundang pemantau asing untuk mengamati pemilihan sela.
Bagaimanapun sejumlah pihak masih bersikap ragu-ragu sebelum memastikan bahwa demokrasi memang akan terwujud sepenuhnya di negara itu.









