ASEAN 'lebih siap' hadapi krisis

Menkeu Agus Martowardojo

Sumber gambar, 1

Keterangan gambar, Menkeu Agus mengatakan ASEAN telah siapkan berbagai antisipasi hadapi krisis.

Forum Menteri Keuangan ASEAN di Jakarta menyatakan negara di kawasan ini lebih siap menghadapi krisis ekonomi seperti yang kini terjadi di AS dan Eropa.

Forum yang dihadiri sembilan menteri dari sepuluh negara ASEAN ini menyatakan kesiapan mereka dibentuk berdasarkan pengalaman eksternal dari situasi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, dan juga dari pengalaman kawasan Asia sendiri saat menghadapi krisis moneter tahun 1998.

"(ASEAN) Harus lebih hati-hati dan makin erat bekerja sama, (tetapi) kami lebih siap," tegas Menkeu Agus Martowardojo dari Indonesia.

Salah satu bentuk kesiapan itu menurut Agus adalah dengan disiapkannya sumber dana talangan ASEAN ditambah tiga negara, Cina, Jepang, dan Korea Selatan, yang disepakati tahun lalu.

Inisiatif Chiang Mai (CMI), disepakati 24 Maret 2010 sebagai sumber pertukaran mata uang sepuluh negara ASEAN plus tiga negara, untuk situasi darurat termasuk krisis moneter dengan nilai US$120 juta (sekitar Rp1,07 triliun).

"Jadi pada tahap pertama, masing-masing negara sudah harus siap menghadapi krisis. Pada tahap berikutnya negara ASEAN bisa menggunakan dana talangan dari Inisiatif Chiang Mai sebelum meminta bantuan lembaga keuangan lain seperti Bank Pembangunan Asia atau IMF,"tambah Agus.

Inisiatif Chiang Mai

Inisiatif Chiang Mai mulai dibahas pascakrisis moneter Asia tahun 1998 dan kesepakatan untuk membentuk lembaga dana talangan sementara dicapai tahun 2000.

Terkait timbulnya berbagai ancaman lain sehubungan dengan krisis ekonomi di kawasan, ASEAN menurut Forum Menteri Keuangan juga menyiapkan berbagai skema antisipasi termasuk bila guncangan terjadi di pasar modal dan pada pasokan pangan.

"Karena itu juga ada ASEAN food security (lumbung pangan ASEAN)," tambah Agus.

Situasi krisis di Eropa menurut Forum Menteri Keuangan ASEAN juga menjadi perhatian mereka, terkait rencana pembentukan Komunitas ASEAN tahun 2015 dan pemberlakuan mata uang tunggal ASEAN, meski belum ditetapkan kapan target berlakunya.

Meski menangkap peluang di tengah krisis, ASEAN juga mengakui adanya perlambatan ekonomi meski tak diketahui skalanya akibat banjir di Thailand, kamboja, Laos, dan Vietnam.

Menteri Ekonomi dan Keuangan Kamboja Kong Vibol mengatakan banjir terutama berdampak pada perekonomian Kamboja dan Thailand.

Industri otomotif

Pabrik otomotif Thailand terendam banjir

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sektor otomotif kawasan ASEAN diramalkan terganggu akibat banjir Thailand.

"Banjir jelas berdampak pada perekonomian dua negara, terutama karena harga barang dari Thailand pasti akan jadi lebih mahal (ke Kamboja)," kata Menkeu Chhon tentang negara tetangganya itu.

Dampak banjir juga dirasakan oleh Singapura, Malaysia, dan Indonesia, karena Thailand menjadi salah satu basis manufaktur yang menyediakan pasokan suku cadang untuk berbagai industri di negara-negara ASEAN tersebut.

"Kami tidak tahu berapa besar (dampaknya), yang jelas kami berusaha batasi," kata Menkeu Malaysia Mohammad Hanadzlah.

Seperti dilaporkan wartawan BBC Dewi Safitri, salah satu sektor yang akan terkena imbas, adalah sektor otomotif karena Malaysia-Thailand-Indonesia memiliki jaringan industri otomotif yang saling terkait.

Sektor lain adalah pangan seperti dilaporkan oleh Menkeu Laos Viengthong Siphandone.

Thailand yang kaya dengan sumber daya pertanian menjadi negara pengekspor besar bahan pangan termasuk beras, sayur dan buah, dan akibat banjir harga pangan ini diperkirakan akan meroket.

Forum Menteri Keuangan ASEAN berakhir Selasa siang, setelah mendengar pidato Direktur Pelaksana IMF yang juga mantan menteri keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati.