PBB: 30 tahun untuk bersihkan polusi minyak Nigeria

Sumber gambar, BBC World Service
PBB mengatakan diperlukan waktu 30 tahun dan dana US$1 miliar untuk membersihkan polusi di kawasan minyak Ogoniland, Nigeria.
Laporan oleh Program Lingkungan PBB, UNEP, menyebutkan polusi itu merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.
Polusi tersebut menyebabkan gumpalan minyak setebal delapan sentimeter di air yang digunakan untuk minum.
PBB mengatakan perusahaan minyak Shell tidak mengikuti prosedur yang mereka tetapkan sendiri untuk merawat prasarana dan tumpahan minyak itu akan berdampak buruk pada tanaman.
Namun PBB menambahkan rakyat setempat juga ikut andil karena merusak jaringan pipa untuk mencuri minyak.
Rakyat setempat dan Shell disebut ikut bertanggung jawab atas terjadinya polusi akibat tumpahan mihyak itu.
PBB mengatakan upaya paling lama dalam sejarah diperlukan untuk memulihkan kondisi Ogoniland seperti sedia kala.
Dana satu miliar
Temuan yang mengkhawatirkan itu dikeluarkan setelah survei selama 14 bulan di kawasan Delta Niger.
Sampel tanah dan air sebanyak empat ribu unit dianalisa dan hasilnya menunjukkan parahnya polusi minyak ini lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya.
Air minum di paling tidak sepuluh tempat terkontaminasi sehingga membahayakan masyarakat.
Di salah satu tempat, air yang dikonsumsi mengandung bahan carcinogen, 900 kali lebih tinggi dari batas normal.
Tumpahan minyak juga telah meresap ke tanah sedalam lima meter.
PBB menyerukan dana US$1 miliar dolar -yang akan disediakan oleh perusahaan-perusahaan minyak dan pemerintah Nigeria- untuk menangani polusi minyak itu.
Shell menerima tanggung jawab atas tumpahan minyak yang terjadi pada tahun 2008 dan 2009.
Satu kelompok masyarakat menuntut ganti rugi ratusan juta dolar. Shell mengatakan akan menangai kasus itu berdasarkan hukum Nigeria.
Nigeria merupakan salah satu produsen minyak besar dunia.
"Penelitian ini dirancang bukan untuk menyalahkan siapapun yang terlibat operasi di Ogoniland," kata juru bicara UNEP Nick Nuttal kepada BBC.
"Apa yang kami harapkan adalah laporan ini dapat menutup cerita sedih yang bermula beberapa puluh tahun lalu."
"Kami berharap laporan ini dapat membangun kerjasama antara berbagai pihak di dunia," tambahnya.
Ia juga menekankan pengakuan Shell atas tumpahan minyak ini tidak ada kaitannya dengan laporan UNEP.
Nelayan jatuh miskin
Martin Day, kuasa hukum Rakyat Bodo di Ogoniland mengatakan kepada BBC sebagian besar kawasan terkena dampak tumpahan minyak dan karena itu nelayan setempat kehilangan pekerjaan mereka.
"Karena tumpahan minyak ini, tidak ada lagi ikan," katanya. "Mereka jatuh miskin."
Day menggambarkan tumpahan itu sebagai yang paling buruk di dunia dan diabaikan sampai perusahaannya mengancam akan membawa Shell ke pengadilan di Inggris.
Langkah ini, menurut Day, dapat menjadi preseden komunitas lain yang kehidupannya terganggu oleh perusahaan-perusahaan Barat.
Masalah lingkungan akibat industri minyak di Ogoniland diangkat oleh penulis Ken Saro-Wiwa yang dihukum mati oleh pemerintah Nigeria tahun 1995. Kejadian ini memicu kecaman internasional.
Langkah ini menyebabkan Shell menghentikan operasi minyak di Ogoniland namun masih terus menjalankan jaringan pipa.
Laporan UNEP sebelumnya membuat marah para aktifis karena menyebutkan 90% tumpahan minyak akibat sabotase dan pencurian minyak oleh rakyat setempat.
Menjelang keluarnya laporan UNEP ini, gerakan Saro Wiwa yang disebut Kebangkitan Rakyat Ogoni (Mosop), mengecam organisasi dunia itu karena mereka tidak diajak berkonsultasi.









