Jimmy Carter serukan bantuan bagi Korut

Mentan Presiden AS Jimmy Carter

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Mantan Presiden AS Jimmy Carter bersama delegasi ketika tiba di Pyongyang 26 April, 2011

Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter menuduh Amerika Serikat dan Korea Selatan melanggar hak asasi manusia terhadap Korea Utara karena menahan bantuan pangan.

Komentar Carter diberikan setelah kunjungan pribadi selama tiga hari ke Pyongyang.

Ia juga mengatakan Korea Utara bersedia melakukan perundingan tanpa syarat dengan Korea Selatan. Pesan ini disampaikan dalam bentuk nota dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-il.

Korea Selatan ingin Korea Utara meminta maaf atas dua serangan mematikan bulan lalu sebelum pembicaraan dimulai.

Negara itu menuduh Korea Utara menenggelamkan sebuah kapal perangnya pada bulan Maret 2010 menewaskan 46 orang. Tuduhan ini disangkal Korea Utara. Korea Selatan juga menghendaki Korea Utara meminta maaf karena telah menembaki sebuah pulau di perbatasan pada bulan November, menewaskan empat orang.

Amerika Serikat menekankan bahwa kunjungan Carter "sepenuhnya bersifat pribadi", sementara Korea Selatan mengatakan "tidak banyak harapan" bahwa mantan pemimpin Amerika Serikat itu bisa membawa terobosan.

Kekhawatiran soal pangan

Carter pergi ke Korea Utara dengan tiga mantan pemimpin negara dari Kelompok Tetua dan mengadakan pembicaraan dengan wakil Kim Jong-il, Kim Jong-nam.

Berbicara di Seoul setelah kembali ia mengatakan Korea Utara perlu bantuan pangan.

"Salah satu hak asasi manusia paling penting adalah pangan untuk dimakan, dan bahwa Korea Selatan, Amerika Serikat dan negara-negara lain dengan sengaja menahan bantuan pangan untuk rakyat Korea Selatan benar-benar adalah pelanggaran hak asasi manusia," katanya.

Korea Selatan dan Amerika Serikat menangguhkan pengiriman pangan untuk Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir karena memburuknya hubungan politik dan kekhawatiran untuk bisa memantau bantuan.

Namun wartawan BBC Lucy Williamson di Seoul mengatakan Korea Utara telah memperingatkan terjadinya kekurangan pangan yang akhir tahun ini karena musim dingin yang parah.

Korea Utara sudah bergantung pada bantuan pangan sejak bencana pangan pada pertengahan tahun 1990an.

Pada hari Rabu lembaga sosial yang bermarkas di Amerika Serikat , Samaritan's Purse, yang melakukan survey kebutuhan pangan Korea Utara pada bulan Februari memperingatkan bahwa cadangan pangan di beberapa wilayah di negara itu akan habis sebelum bulan Juni.

Mengenai dialog, Carter mengatakan meskipun ia tidak bertemu Kim Jong-il, pemimpin Korea Utara itu mengirim "pesan bahwa ia dan rakyat Korea Utara bersedia berunding dengan Korea Selatan atau Amerika Serikat...mengenai masalah apapun kapan saja tanpa prasyarat".

"Ia secara khusus mengatakan ia bersedia untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak kapan saja," katanya.

Namun ia mengatakan meskipun negara komunis itu menyatakan "rasa penyesalan yang dalam" atas penenggelaman kapal perang dan penembakan pulau di perbatasan, Korea Utara tidak meminta maaf bagi kedua insiden.