Thailand akui gunakan bom curah

Kuil yang diperebutkan Kamboja dan Thailand

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Thailand, menurut koalisi bom curah, mengakui menggunakan senjata ini.

Pegiat penentang bom curah mengatakan Thailand sudah mengakui menggunakan senjata tersebut melawan Kamboja ketika kedua negara bentrokan di perbatasan pada bulan Februari lalu.

Wartawan BBC di ibukota Kamboja, Phnom Penh, Guy De Launey mengatakan koalisi Bom Curah menyebut keputusan itu"sangat mengerikan" dan "tidak berbudi".

Penggunaan senjata bom curah dilarang oleh konvensi internasional tiga tahun lalu, namun Thailand dan Kamboja tidak menandatangani perjanjian itu.

Mengakui menggunakan senjata bom curah adalah perubahan sikap yang sangat penting dari pihak Thailand.

Kamboja dengan cepat menuduh tetangganya yang lebih besar menggunakan bom curah selama pertempuran empat hari bulan Februari lalu.

Thailand membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa kalau ada yang menggunakan bom curah, itu pasti pasukan Kamboja.

Tetapi beberapa organisasi kemanusiaan yang mengunjungi wilayah sengketa di dekat kuil Preah Vihear setelah terjadinya bentrokan, melaporkan adanya temuan bom curah yang tidak meledak.

"Bukti-bukti inilah yang tampaknya membuat sikap Bangkok berubah", kata wartawan BBC Guy De Launey di Phnom Penh.

Koalisi Bom Curah mengatakan Thailand membenarkan pasukannya melepaskan bom curah dengan alasan melindungi diri melawan artileri dari Kamboja yang jatuh di wilayah pemukiman penduduk.

Organisasi ini mengatakan alasan itu seharusnya tidak digunakan untuk membenarkan penggunaan bom curah yang sudah dilarang lebih di seratus negara.

Menurut para pegiat koalisi ini, ribuan penduduk desa sekarang terancam tewas atau mengalami luka parah karena bom curah yang belum meledak itu berada di sekitar kediaman mereka.

Salah satu alasan kenapa bom curah sangat tidak populer adalah karena anak-anak tertarik melihat bom-bom kecil berwarna cerah dan mereka akan luka parah jika mereka mengangkat bom tersebut.