Demonstran ambil alih pusat Kairo

Sumber gambar, elvis
Para pengunjuk rasa mengambil alih pusat ibu kota Mesir, Kairo, pada hari keenam demonstrasi antikekuasaan Presiden Husni Mubarak.
Polisi, yang terlibat bentrokan berdarah dengan para pengunjuk rasa dalam hari-hari belakangan ini, hampir tidak kelihatan di jalan-jalan.
Personel militer dalam jumlah cukup besar mengambil posisi di kota berpenduduk delapan juta jiwa itu, namun tentara tidak melakukan tindakan apa pun.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan --terutama polisi antihuruhara-- menurut laporan merenggut nyawa setidaknya 100 orang di segenap pelosok Mesir sejak demo bermula hari Selasa.
Ribuan lainnya luka-luka dalam tindak kekerasan besar yang terjadi di Kairo, Suez dan Iskandariyah.
Kevakuman kekuasaan

Sumber gambar, elvis
Di Kairo, banyak pengunjuk rasa yang mengabaikan larangan keluar pada malam hari dengan berkumpul di Lapangan Merdeka (Maidan at-Tahrir), yang menjadi pusat demontrasi di kota itu.
Teriakan "Mubarak, Mubarak, pesawat menunggu" terdengar Minggu pagi. Teriakan ini menggambarkan harapan para demonstran agar Presiden Mubarak meletakkan jabatan dan pergi dari Mesir.
Sementara itu pemerintah Mesir mengumumkan bahwa Al-Jazeera harus menghentikan operasinya di Mesir.
Saluran televisi berbahasa Arab yang menayangkan liputan menyeluruh atas aksi-aksi protes di Mesir itu, mengatakan pihaknya masih belum menerima perintah resmi dari pihak yang berwenang.









