Referendum Sudan Selatan dimulai

Salva Kiir
Keterangan gambar, Pemimpin Sudan Selatan Salva Kiir memberikan suaranya hari ini.

Warga di wilayah Sudan Selatan mulai melakukan referendum yang menentukan apakah mereka akan terlepas atau tetap bergabung dengan Utara.

Sejumlah orang mulai membanjiri sejumlah tempat yang disediakan untuk menyalurkan suara warga di wilayah tersebut.

Keputusan yang dihasilkan dari proses referendum ini kemungkinan akan memecah wilayah Sudan menjadi dua.

Pemimpin Sudan Selatan, Salva Kiir mengatakan referendum kali ini merupakan sesuatu yang bersejarah bagi warganya.

"Ini adalah saat bersejarah yang telah ditunggu oleh warga di Sudan Selatan," katanya.

Referendum ini merupakan bagian dari perjanjian damai tahun 2005 yang mengakhiri perang saudara 20 tahun antara pemerintah Sudan dan gerakan kemerdekaan di selatan

"Ini adalah awal baru karena kami memilih untuk kemerdekaan kami," kata Wilson Santino salah satu warga yang ikut memberikan suara hari ini.

"Kami sudah bertikai untuk waktu yang lama tapi hari ini kami memberikan suara untuk berpisah dan untuk perdamaian."

Referendum damai

Sebelumnya pada hari Sabtu kemarin (8/1), Salva Kiir mengatakan bahwa referendum ini "bukanlah perjalanan akhir tapi lebih pada sebuah permulaan baru".

Dia menyampaikan hal tersebut di Jube dan berdampingan dengan Senator AS, John Kerry, yang sebelumnya juga menggelar pembicaraan dengan sejumlah pemimpin di selatan dan utara.

Pembicaraan Kerry ini bertujuan untuk mendorong terlaksananya proses referendum yang lancar dan damai.

Kekhawatiran terhadap gangguan dalam proses referendum ini sempat terjadi saat pemberontak melakukan serangan di wilayah selatan namun berhasil diatasi oleh pasukan keamanan setempat.

Pemerintah Sudan sendiri telah mengingatkan kemungkinan munculnya sejumlah masalah jika Sudan Selatan berpisah dan membentuk negara baru.

Dalam wawancara dengan televisi al-Jazeera dalam Bahasa Arab, Presiden Bashir mengatakan dia memahami keinginan banyak rakyat Sudan Selatan untuk merdeka, tetapi juga mempertanyakan kemampuan negara baru itu untuk mengatasi persoalan.

"Sudan Selatan tidak mempunyai kemampuan untuk menghidupi warganya, atau membentuk suatu negara atau suatu otorita," kata Bashir.

Sebagai alternatif, Presiden Bashir mengusulkan agar kedua negara bergabung dalam sebuah blok mirip Uni Eropa.

Sudan terbagi antara wilayah utara yang mayoritas beragama Islam dan berkebangsaan Arab dengan bagian selatan yang penduduknya adalah etnik Afrika dan umumnya beragama Kristen.

Sudah lebih dari satu dekade kelompok di dua wilayah itu sering bertikai akibat perbedaan latar belakang tersebut.