Objek terbang asing ditembak di Alaska, menurut laporan AS
- Penulis, Sam Cabral & Chloe Kim
- Peranan, BBC News, Washington
Presiden Amerika Serikat Joe Biden memerintahkan sebuah jet tempur untuk menembak sebuah "objek di ketinggian" tak dikenal di lepas pantai Alaska pada Jumat, menurut Gedung Putih.
Juru bicaranya, John Kirby mengatakan objek terbang tanpa awak "seukuran mobil kecil" dan menjadi "ancaman yang masuk akal" bagi penerbangan sipil.
Asal usul dan misi dari benda tersebut masih belum jelas, kata Kirby.
Benda ini muncul satu pekan setelah militer Amerika menghancurkan balon terbang milik China di atas teritori perairan AS.
Berbicara di Gedung Putih pada Jumat waktu setempat, Kirby mengatakan puing-puing objek yang ditembak pada Jumat "jauh lebih kecil" dari balon China yang ditembak pada Sabtu pekan lalu di pantai Carolina Selatan.
Dia mengatakan bahwa objek tersebut terbang di ketinggian 12.000 meter di atas pantai utara Alaska.
Benda ini sudah mengelilingi Alaska pada kecepatan hingga 64km/jam, dan berada di atas laut saat ditembak. Benda ini akan menuju ke Kutub Utara.
Penerbangan komersial bisa terbang hingga ketinggian 13.700 meter (45.000 kaki).
Helikopter dan pesawat angkut telah dikerahkan untuk mengumpulkan puing-puing benda tersebut dari perairan beku Laut Beaufort.
"Kami tidak tahu siapa pemiliknya, apakah milik suatu negara atau perusahaan, atau perorangan," kata Kirby.
Objek tak dikenal tersebut pertama kali muncul pada Kamis malam, meski pun pihak berwenang tidak menjelaskan kapan waktu persisnya.

Dia mengatakan, dua jet tempur mendekati objek tersebut, dan menemukan tidak ada siapa pun di dalamnya. Dan, informasi ini disampaikan ke Biden, hingga ia membuat keputusan untuk menembaknya.
"Kami akan selalu waspada terhadap wilayah udara kami," tegas Kirby. "Presiden telah mengambil tanggung jawabnya untuk melindungi keamanan nasional, sebagai hal penting."
Menurut ABC News, objek tersebut nampaknya tak memiliki mesin penggerak.
Benda ini nampaknya mengambang, "berbentuk silinder, dan keperak-perakan", menurut laporan kepala koresponden jaringan global ABC News Martha Raddatz, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Juru bicara Pentagon, Brigjen Pat Ryder mengatakan objek tersebut "tidak mirip dalam hal ukuran dan bentuk" dibandingkan dengan balon China.
Dia mengkonfirmasi bahwa sebuah jet F-22 telah menembak objek tersebut pada pukul 13:45 (18:45 GMT) pada hari Jumat.

Sumber gambar, Getty Images
Pesawat perang ini terbang dari Pangkalan Bersama Elmendorf-Richardson di Anchorage.
Jenderal Ryder mengatakan sejumlah puing besar dari objek tersebut telah ditemukan, sejauh ini. Pecahan objek asing ini telah diangkut ke kapal dan di bawa ke "laboratorium untuk analisis lebih lanjut," tambahnya.
Pihak berwenang mengatakan mereka belum menentukan, apakah objek tersebut terkait dengan pengawasan, dan Kirby juga mengoreksi pertanyaan seorang reporter yang menduganya seperti balon.
Dia tidak merinci di mana tepatnya objek tersebut ditembak, tapi Badan Penerbangan Federal mengatakan, telah mengunci area sekitar 10 mil persegi wilayah udara AS di atas Deadhores, Alaska utara, sebelum F-22 melepaskan tembakan.
Wilayah ini sekitar 130 mil dari perbatasan Kanada, yang disebut Perdana Menteri Justin Trudeau dalam Twitternya, ia sudah diberitahu tentang "objek yang melanggar wilayah udara Amerika" dan "mendukung keputusan yang diambil".
Sejauh ini, tidak ada lagi objek asing lainnya yang mengancam di wilayah udara AS, menurut Gedung Putih.
Kirby mengatakan objek tersebut nampaknya tidak memiliki kemampuan untuk manuver seperti balon China, dan terlihat "mengikuti arah angin".
Beberapa jam setelah AS menembak balon China pada Sabtu pekan lalu, Menteri Pertahanan Lloyd Austin menelpon pihak China melalui jalur krisis khusus mereka.
Tapi Menteri Pertahanan China Wei Fenghe menolak untuk menjawabnya, menurut Pentagon.
Pihak berwenang China pada Jumat kemerin menuduh AS melakukan "manipulasi politik, dan membesar-besarkannya".
Dalam sebuah wawancara Kamis kemarin, Presiden Biden mengungkapkan penanganan terhadap Balon China sudah benar, dan ia menyebut itu "bukan pelanggaran besar".
Jumat pekan lalu, lima perusahaan China dan satu lembaga penelitian dimasukkan dalam daftar hitam oleh Pemerintah AS. Kelima entitas tersebut masuk ke dalam daftar hitam atas tuduhan telah mendukung program kedirgantaraan militer China - termasuk kapal udara dan balon - menurut pengumuman Departemen Perdagangan AS.












