Gempa Turki-Suriah: Ribuan orang tawarkan diri untuk adopsi bayi yang baru lahir di bawah puing bangunan

- Penulis, Merlyn Thomas dan Nawal al-Maghafi
- Peranan, BBC News
Ribuan orang menawarkan diri untuk mengadopsi seorang bayi perempuan yang lahir di bawah puing-puing bangunan yang runtuh di barat laut Suriah, setelah gempa hari Senin.
Ketika dia diselamatkan, bayi Aya - yang berarti keajaiban dalam bahasa Arab - masih terhubung dengan ibunya melalui tali pusarnya.
Ibu, ayah, dan keempat saudaranya meninggal setelah gempa mengguncang Kota Jindayris.
Aya sekarang dirawat di rumah sakit.
"Dia tiba pada hari Senin dalam keadaan yang sangat buruk, tubuhnya benjol, memar, dia kedinginan dan hampir tidak bernapas," kata Hani Marouf, dokter anak yang merawatnya.
Aya sekarang dalam kondisi stabil.
Video penyelamatan Aya viral di media sosial. Rekaman menunjukkan seorang pria berlari dari puing-puing bangunan yang runtuh, menggendong seorang bayi berselimut debu.
Khalil al-Suwadi, seorang kerabat jauh, yang ada di sana ketika dia dibawa ke tempat yang aman, membawa bayi yang baru lahir itu ke dr. Marouf di Kota Afrin, Suriah.

Sumber gambar, Getty Images
Ribuan orang di media sosial kini telah meminta detail untuk mengadopsinya.
"Saya ingin mengadopsinya dan memberinya kehidupan yang layak," kata satu orang.
Seorang pembawa acara TV di Kuwait berkata, "Saya siap untuk merawat dan mengadopsi anak ini... jika prosedur hukum mengizinkan saya untuk melakukannya."
Manajer rumah sakit, Khalid Attiah, mengatakan dia telah menerima lusinan telepon dari orang-orang di seluruh dunia yang ingin mengadopsi bayi Aya.
Dr. Attiah, yang punya seorang putri yang hanya empat bulan lebih tua dari Aya, berkata, "Saya tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengadopsinya sekarang. Sampai keluarga jauhnya kembali, saya memperlakukannya seperti anak saya sendiri."
Untuk saat ini, istri dr. Attiah menyusui Aya bersama putri mereka sendiri.
Di kota asal Aya, Jindayris, orang-orang masih mencari orang terkasih mereka di antara bangunan yang runtuh.
Seorang jurnalis di sana, Muhammad al-Adnan mengatakan kepada BBC, "Situasinya sangat gawat. Ada begitu banyak orang di bawah puing-puing. Masih ada orang yang belum kita keluarkan."
Dia memperkirakan 90% kota telah hancur dan sebagian besar bantuan sejauh ini datang dari penduduk setempat.

Sumber gambar, Getty Images
Tim penyelamat dari organisasi Helm Putih, yang sudah terbiasa mengevakuasi orang dari puing-puing selama lebih dari satu dekade perang saudara Suriah, telah membantu di Jindayris.
"Para penyelamat bisa menjadi korban juga karena betapa bangunan-bangunannya begitu tidak stabil," kata Mohammed al-Kamel.
"Kami baru saja menarik tiga jenazah dari puing-puing ini dan kami pikir ada keluarga di sana yang masih hidup - kami akan terus bekerja," katanya.
Di Suriah, lebih dari 3.000 kematian dilaporkan sejauh ini setelah gempa bumi hari Senin.
Angka ini tidak termasuk mereka yang meninggal di daerah-daerah yang dikuasai kelompok oposisi di negara itu.











