Gempa Turki dan Suriah: Gambar-gambar palsu dan menyesatkan yang viral di media sosial, dari tsunami Indonesia hingga ledakan Beirut

Sumber gambar, Getty Images
Hanya dalam beberapa jam setelah gempa yang melanda Turki dan Suriah, konten-konten palsu dan menyesatkan telah viral di media sosial.
Gambar dan video dari rangkaian bencana sebelumnya di negara lain dibagikan oleh para pengguna media sosial dengan menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh gempa pada hari Senin itu.
Tim BBC menelusuri beberapa gambar-gambar yang paling viral, namun ternyata palsu dan menyesatkan.
Baca juga:
- Gempa mematikan di Turki dan Suriah, keluarga penyintas gunakan 'kapak dan linggis' mencari korban 'yang meminta tolong' dari bawah reruntuhan - Total korban meninggal dunia sedikitnya 7.800
- Mengapa gempa Turki dan Suriah begitu mematikan?
- 'Rasanya seperti skenario kiamat' - Kesaksian korban gempa di Suriah utara
Tsunami di Palu, Indonesia
Komedian Inggris-Iran, Omid Djalili membagikan sebuah video di akun Twitter-nya tentang apa yang dia klaim sebagai "tsunami setelah gempa bumi menghantam pantai Turki".
Twit itu telah dilihat hampir 300.000 kali.
Video tersebut menunjukkan gelombang besar yang menghanyutkan bangunan di pinggir pantai, saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
Tapi, saat kami menelusuri tangkapan layar dari rekaman tersebut dan mencarinya di internet, terungkap bahwa klip tersebut sebenarnya terjadi pada September 2018 dan berasal dari Indonesia.

Peristiwa yang terjadi akibat gempa berkekuatan 7,5 magnitude itu terjadi di pulau Sulawesi, Indonesia, yang memicu tsunami dan merusak kota pesisir Palu.
Setelah warganet menunjukkan fakta itu kepadanya, Djalili men-twit lagi untuk mengatakan, "Saya mengerti ini BUKAN Turki kemarin ... Twit [itu] secara emosional [dilakukan saat] larut malam dari sumber yang biasanya dapat dipercaya."
Ledakan Beirut
Selain tsunami di Palu, satu twit- dari pengguna Twitter terverifikasi - mengeklaim bahwa pembangkit nuklir meledak akibat gempa bumi di Turki.
Video tersebut bahkan telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali.

Twit itu juga mengatakan "Tak terkonfirmasi, apakah ini nyata?".
Ternyata, itu tidak benar.
Menelusuri melalui mesin pencari internet untuk melihat apakah gambar itu pernah muncul online sebelumnya, mengungkapkan bahwa foto itu sebenarnya berasal dari ledakan Beirut pada Agustus 2020, yang mengakibatkan kematian setidaknya 200 orang.
Twitter kemudian menambahkan label ke twit tersebut, mengklarifikasi asal sebenarnya.
Bangunan Florida yang runtuh

Pada Senin dini hari, sebuah video yang viral secara online mengeklaim peristiwa runtuhnya bangunan di Turki, dan telah ditonton lebih dari satu juta kali di Twitter.
Namun, pencarian melalui bingkai kunci (key frames) dari video ini di Google mengungkapkan bahwa klip tersebut ternyata merupakan peristiwa keruntuhan kondominium Surfside yang mematikan di Florida pada Juni 2021, yang rekamannya dibagikan secara luas pada saat itu.
Runtuhnya perancah bangunan Jepang
Unggahan lain di Twitter juga menunjukkan video dengan perancah bangunan dari gedung tinggi yang jatuh ke tanah.

Twit tersebut secara salah mengeklaim bahwa peristiwa itu disebabkan oleh gempa bumi di Turki dan dibagikan di berbagai platform yang mengumpulkan ratusan ribu penonton.
Video ini sebenarnya adalah sebuah insiden yang terjadi di Jepang pada tahun 2016.
Gambar palsu dan menyesatkan itu diposting oleh pengguna yang sama yang mengunggah gambar ledakan Beirut.
Gambar stok anjing

Gambar seekor anjing berbaring di atas puing-puing di mana sebuah tangan mencuat dari puing-puing bangunan memegang kaki anjing itu, dibagikan setelah gempa, disertai dengan tulisan "foto yang memilukan hari ini" dan tagar Turki.
Gambar tersebut telah dilihat lebih dari 1,4 juta kali sejauh ini.
Tetapi pencarian gambar terbalik menggunakan teknologi Google Lens yang tersedia secara bebas menunjukkan bahwa foto itu sama percis dengan yang ada di situs web stok gambar dengan judul "Anjing mencari orang yang terluka di reruntuhan setelah gempa".
Gambar tersebut bertanggal Oktober 2018 dan membuktikan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan gempa minggu ini.
Dilaporkan oleh Shayan Sardarizadeh, Merlyn Thomas dan Adam Robinson.










