Lagu ‘Out of Your League’ Shakira: Bagaimana menciptakan lagu patah hati yang sempurna?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Manish Pandey
- Peranan, BBC Newsbeat
- Waktu membaca: 4 menit
Ketika putus cinta, Anda mengalami beragam emosi, mulai dari kemarahan, kenestapaan, kesedihan, dan derai air mata.
Bagaimana menghadapinya? Beberapa dari Anda mungkin memilih untuk maraton menonton, makan makanan cepat saji, atau mencurahkan emosi Anda ke dalam diari.
Atau, jika Anda adalah seorang musisi ternama dunia, Anda mungkin menciptakan lagu sindiran yang membidik mantan Anda yang berselingkuh.
Setelah itu, mengunggah lagu itu ke internet lalu menyaksikan kegaduhan yang timbul.
Setidaknya, itulah yang dilakukan Shakira dengan Out of Your League, lagu terbarunya mengenai sang mantan kekasih, pesepakbola Gerard Piqué.
Lagu itu telah memecahkan rekor YouTube dan telah ditonton lebih dari 82 juta kali dalam 24 jam, sekaligus menjadi lagu Latin baru yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah YouTube.
Shakira tidak sendiri. Banyak yang meyakini bahwa lagu terbaru Miley Cyrus, Flowers, adalah tentang mantan suaminya, Liam Hemsworth.

Sumber gambar, Getty Images
Bukan hal baru bagi para bintang pop untuk menuangkan emosi mereka menjadi lagu. Contohnya Adele.
Begitu pula dengan Ariana Grande, The Weeknd, dan Ed Sheeran -- nama-nama besar yang dalam beberapa tahun terakhir merilis lagu yang terinspirasi dari patah hati.
Tapi apa trik mereka dalam menciptakan lagu patah hati yang sempurna? Dan mengapa lagu-lagu itu begitu memuaskan untuk didengar?
Baca juga:
Kisah cinta (yang hilang)
Alasan utama mengapa genre ini begitu populer mungkin sudah jelas: kebanyakan dari kita pernah diputuskan atau memutuskan hubungan.

Sumber gambar, Getty Images
Itu menyakitkan. Kita bisa turut merasakannya, kata Martin Wright, Direktur Institut Modern Inggris dan Irlandia (BIMM) di Brighton.
Hal paling khas dari lagu-lagu patah hati adalah tentang narasinya.
"Jika saya memutuskanmu, ini tentang pemberdayaan, pembebasan, dan kebebasan," kata Martin.
"Tapi jika kamu memutuskan saya, narasinya mungkin tentang kesedihan, kepahitan, dan bahkan terkadang balas dendam."
Dalam Out of Your League, Shakira secara mengesankan berhasil menggabungkan sebagian besar elemen itu ke dalam satu baris:
"Aku tidak akan kembali bersamamu, tidak meski kamu menangis, bahkan kalau kamu memohon."
Mengapa lagu patah hati begitu populer?
Amunisi berikutnya adalah mengapa perpisahan itu terjadi.
"Apakah lagu itu soal kekasih yang dicemooh, atau mungkin fase di mana kehidupan terus berlanjut dan rasa cinta yang pudar?" tanya Martin.
"Kemudian kita bisa melihat apa yang terjadi melalui lagu patah hati. Bagaimana sebenarnya perasaan seseorang terkait perpisahan mereka?"
Ada beberapa pilihan dalam hal ini. Pendekatan yang populer adalah dengan menunjukkan bahwa "Saya sudah selesai dengan ini", seperti yang ditunjukkan Ariana Grande dalam lagu Thank U, Next yang dirilis setelah putus dengan komedian Pete Davidson.
"Saya telah belajar dari rasa sakit/saya menjadi luar biasa."

Sumber gambar, Getty Images
Atau Anda bisa pula menggunakan trik dari lagu Olivia Rodrigo yang cenderung reflektif:
"Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu bisa baik-baik saja setelah aku pergi."
Sentuhan akhir
Sebagai sentuhan akhir, cerita yang bagus tidak akan lengkap tanpa penutup soal apa yang terjadi selanjutnya.
Menurut Martin, bagian chorus dengan nuansa memandang ke depan menjadi kunci dalam hal ini.
Anda bisa menulis lirik penuh harapan, seperti yang dilakukan Adele dalam megahit-nya pada 2011, Someone Like You.
"Tidak apa-apa, aku akan menemukan seseorang yang sepertimu".
'Tetesan air mata'
Selain enak untuk didengarkan, lagu patah hati juga bisa bermanfaat bagi penulisnya.
Contohnya seperti yang dialami bintang pop Inggris Ed Sheeran. Dia secara terbuka mengatakan bahwa lagu Don't yang dirilis pada 2014 setelah putus dengan musisi Ellie Goulding, membuatnya legowo.

Sumber gambar, Getty Images
"Saya bisa mengatasi kemarahan saya ketika menulis lagu itu," kata Sheeran kepada surat kabar Sun.
Penyanyi sekaligus penulis lagu asal London, Nahli, bercerita bahwa dia langsung menulis lagu setelah putus.
"Rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokan saya, perasaan yang berat dan membuat saya merasa tidak baik-baik saja," kata dia.
Nahli, yang pernah tampil dengan musisi seperti Sigma, mengatakan dia biasanya menuliskan emosinya di buku hariannya. Sekarang dia mengubah catatan harian itu menjadi lagu.
"Ketika Anda menuliskannya saat itu juga, ketika air mata Anda menetes di halaman buku dan menodai tinta… Saat itulah semua emosi terdalam saya keluar."
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan

Lagu Nahli yang berjudul Mama's Boy, ada di dalam albumnya Therapy [Side A] adalah tentang "putus cinta yang berantakan".
"Ini lebih merupakan [lagu] balas dendam. Saya merasa kesal saat menulis lagu ini," katanya.
"Saya mengatakan beberapa hal yang sangat kasar di lagu itu. Karena pada saat itu, itulah yang saya rasakan, saya sangat marah.
"Dan satu-satunya cara supaya saya bisa melampiaskan rasa marah itu adalah karena saya ingin dia mendengarkannya."
Lagu lainnya yang berjudul Relapse dalam album yang sama adalah tentang "memahami bahwa orang itu tidak baik untuk saya."
"Kadang-kadang ketika mereka mencoba masuk kembali ke hidupmu, saya sangat khawatir bakal menerimanya kembali."
Bagi Nahli, lagu-lagu tersebut adalah "cara bersih-bersih", satu-satunya cara "melampiaskan emosi saya".
"Ketika saya menulis, saya membongkar dan menarik semua simpul ini, dan meluruskannya di depan saya sehingga saya bisa mengatur dan memproses emosi itu.
"Begitu kamu bisa melepaskannya, rasanya seperti terapi."










