Larangan aborsi di El Savador: 'Saya dipenjara karena keguguran'

- Penulis, Will Grant
- Peranan, BBC News El Salvador
Pengetatan aturan aborsi seperti yang terjadi di Amerika Serikat sudah dirasakan para perempuan di El Salvador. Negara ini memiliki aturan hukum sangat ketat terkait aborsi.
Pada Februari lalu, empat perempuan duduk di hadapan sorotan wartawan El Salvador. Di antara mereka, ada beberapa yang sudah menjalani hukuman hampir 50 tahun penjara.
Kejahatan yang merela lakukan adalah mengalami keguguran—di negara dengan salah satu undang-undang aborsi paling ketat di dunia.
Salah satu perempuan itu bernama Elsy.
Pada Juni 2011, Elsy sedang hamil. Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kampung halamannya. Kala itu, dia pergi ke toilet di tempat kerjanya, kemudian pingsan.
Ketika dia mulai sadar beberapa saat kemudian, dia dikelilingi oleh petugas polisi. Bayinya sudah tiada. Bosnya melaporkannya dengan tuduhan mengakhiri kehamilan.
Dalam persidangan, Elsy dijatuhi hukuman 30 tahun karena melakukan pembunuhan berat. Dia sudah menjalani hukuman selama 10 tahun, sebelum pengacara berhasil mempersingkat hukumannya.

Sumber gambar, Getty Images
"Di penjara saya merasa putus asa, yang bisa saya pikirkan hanyalah waktu 30 tahun itu," kata Elsy kepada BBC. "Saya pikir saya tidak akan pernah bisa melihat ibu saya atau keluarga saya lagi."
Elsy mencoba mengalihkan perhatiannya di penjara. Dia mendapatkan ijazah sekolah menengahnya, berpartisipasi dalam lokakarya, dan menjadi sukarelawan di gereja penjara.
Namun, itu tidak cukup untuk menghentikannya memikirkan hal-hal buruk.
"Saya terus berpikir, 'Mengapa? Mengapa mereka yang bersaksi melawan saya melakukan ini?'"
Baca juga:
Sekarang, Elsy sudah kembali bersama keluarganya. Dia mengatakan hukumannya hanyalah sebuah "ketidakadilan yang terjadi" di El Salvador. Dia menekankan masih banyak perempuan yang masih mengalami apa yang pernah dia alami.
Baru-baru ini, pada Mei, seorang perempuan yang diidentifikasi sebagai "Esme" dijatuhi hukuman 30 tahun, juga untuk pembunuhan berat karena mengalami keguguran.

Namun, protes menjadi sulit dilakukan sejak presiden yang dianggap kontroversial di negara itu, Nayib Bukele, memberlakukan keadaan pengecualian yang memberikan kewenangan yang lebih luas kepada polisi untuk melakukan penangkapan.
Mariana Moisa adalah salah satu aktivis hak-hak perempuan terkemuka di El Salvador. Dia adalah bagian dari gerakan hak aborsi "gelombang hijau" di seluruh Amerika Latin.
Moisa mengatakan, perjuangan mereka tidak hanya untuk membebaskan perempuan atau bahkan mengubah hukum, tapi juga untuk mengubah sikap masyarakat.
"Kami harus terus bekerja, itu tergantung pada kami, dan bukan pada partai politik", katanya di markas organisasinya di San Salvador. "Kita harus menghadapi kenyataan dan mempromosikan perubahan budaya yang nyata."
Di Amerika Serikat, Mahkamah Agung membatalkan keputusan yang menjadikan aborsi sebagai hak konstitusional.
Juru kampanye seperti Moisa khawatir ini akan memperkuat tangan kaum konservatif di seluruh Amerika Tengah.
Dia juga mengatakan, AS akan melakukannya dengan baik jika merujuk ke Amerika Selatan, melihat bagaimana larangan itu bisa langsung "mengingkari kebebasan perempuan dalam yang berada dalam kondisi ini".
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
Namun, mengubah sikap di El Salvador tidaklah mudah.
Padre Vito Guarato adalah rumah bagi anak-anak terlantar di San Salvador, banyak dari mereka mengalami kecacatan.
Salah satu penghuninya yang berusia lima tahun, Ana Lucia, menderita mikrosefali, yang menyebabkan anak-anak dilahirkan dengan kepala yang jauh lebih kecil, kemungkinan karena infeksi virus Zika.
Berbaring di ranjangnya, dikelilingi oleh boneka beruang sumbangan, Ana Lucia membutuhkan perhatian sepanjang waktu. Pengasuhnya melakukan segala yang mereka bisa untuk memberinya kehidupan yang nyaman dan bermartabat.
Namun sebenarnya, dengan tidak adanya pilihan untuk menggugurkan kandungan di El Salvador, beberapa orang tua tidak memiliki banyak pilihan selain mengabaikan anak-anaknya.
"Saya pikir para ibu harus memikul tanggung jawab mereka," kata Rosa Evelyn, salah satu manajer di panti asuhan yang dikelola gereja.
"Jika Tuhan memberikan anugerah kepada Anda untuk menjadi seorang ibu, maka Anda harus menjadi ibu selama Tuhan mengizinkannya," katanya.
Ini adalah pandangan yang dimiliki oleh banyak orang di negara Katolik tradisional ini.
Terlebih lagi, agama yang tumbuh paling cepat di Amerika Tengah saat ini adalah Kekristenan evangelis.
Ketika jangkauannya meluas, demikian juga pengaruh politiknya, nilai-nilai dan pandangan evangelis semakin hadir di dalam parlemen.

Guillermo Gallegos, salah satu wakil presiden majelis nasional, sangat anti-aborsi.
Dia menegaskan dekriminalisasi tidak akan pernah melewati rintangan legislatif pertama, "bahkan ketika kehidupan ibu dalam bahaya".
"Bagaimanapun ketika makhluk kecil itu masih memiliki kehidupan," kata dia, "maka saya cenderung menyelamatkannya daripada menyelamatkan ibunya".
Dalam pidato nasional pada peringatan tahun ketiganya menjabat, Presiden Bukele memuji rencana, yang dipimpin oleh istrinya, untuk membuat persalinan lebih aman di rumah sakit umum El Salvador.
Namun, aborsi tetap dilarang, bahkan dalam kasus inses atau pemerkosaan.










