Perang Ukraina: Sekjen PBB ke Kyiv diwarnai serangan roket, sebut Dewan Keamanan 'gagal cegah dan hentikan perang'
Sejumlah roket menghantam Kyiv saat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, mengunjungi ibu kota Ukraina itu, di mana dia juga mengkritik Dewan Keamanan PBB.
Guterres mengatakan dewan keamanan PBB gagal mencegah maupun menghentikan perang di Ukraina.
Ini adalah "sumber kekecewaan yang besar, sumber frustrasi, dan amarah," kata Guterres.
"Biar saya perjelas: (Dewan keamanan) gagal menggunakan kekuatannya untuk mencegah dan menghentikan perang," ujar dia menambahkan.
Dewan Keamanan PBB memiliki tugas khusus untuk memastikan perdamaian dan keamanan global.
Namun, saat ini badan tersebut tengah menghadapi kritik, termasuk dari pemerintah Ukraina, karena dinilai gagal mengambil tindakan sejak invasi dimulai pada Februari.
Rusia adalah satu dari lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB dan negara itu telah memveto lebih dari satu resolusi mengenai konflik tersebut.
Baca juga:
Guterres menyampaikan hal tersebut pada Kamis malam (29/04) waktu setempat dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang sebelumnya juga mengkritik Dewan Keamanan PBB.
"Saya di sini untuk menyampaikan kepada Anda, Pak Presiden, dan kepada seluruh warga Ukraina, bahwa kita tidak akan menyerah," kata dia.
Namun, Guterres juga membela organisasinya. Dia mengatakan, ketika Dewan Keamanan "dilumpuhkan", PBB mengambil langkah lain.

Sumber gambar, Getty Images
"PBB memiliki 1.400 staf di Ukraina yang bekerja memberikan bantuan, berupa makanan, uang, (dan) bentuk dukungan lainnya," kata dia kepada BBC.
Dalam pertemuan Kamis itu, Zelensky mengatakan bahwa Guterres dalam kunjungannya berkesempatan menyaksikan secara langsung "semua kejahatan perang" yang dilakukan Rusia di Ukraina.
Pemimpin Ukraina itu lagi-lagi menggambarkan tindakan Rusia terhadap negaranya sebagai genosida.
Serangan ke Kyiv terus berlangsung
Dalam kunjungan pimpinan PBB itu, terjadi dua ledakan di pusat distrik Shevchenko di Kyiv. Tiga orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit akibat ledakan itu, kata wali kota setempat.
Guterres juga mengunjungi beberapa wilayah yang diyakini Ukraina sebagai tempat berlangsungnya kejahatan perang yang dilakukan oleh Rusia. Namun, Moskow membantah tuduhan Ukraina itu.
Di Kota Borodyanka, yang terletak di barat laut Kyiv, Guterres berbicara kepada para wartawan di depan gedung-gedung yang hancur akibat serangan Rusia.
Dia mengatakan, tempat itu membuat dia membayangkan bagaimana jika keluarganya sendiri yang mengalami situasi seperti itu. Dia menyebut perang di Ukraina sebagai "hal yang tidak masuk akal yang terjadi di abad ke-21".

Sumber gambar, Getty Images
Guterres juga membuat permintaan darurat untuk menyelamatkan ribuan orang di Kota Mariupol, di selatan Ukraina, yang hancur setelah dibombardir oleh Rusia selama beberapa pekan.
"Mariupol sedang mengalami krisis di dalam krisis," kata dia. "Ribuan warganya membutuhkan bantuan penyelamatan, banyak yang sudah lanjut usia dan membutuhkan perawatan medis, atau mobilitasnya terbatas. Mereka membutuhkan jalan keluar dari kehancuran di sana."
Baca juga:
Sejauh ini, Rusia berulang kali menolak permintaan dari Kyiv yang meminta pejuang Ukraina dan warga sipil Mariupol yang masih berada di pabrik baja Azovstal untuk dievakuasi.
Namun, Guterres kemudian mengatakan kepada BBC bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, "pada prinsipnya" sepakat untuk mengizinkan warga sipil dievakuasi dari Mariupol.
Percobaan evakuasi sebelumnya telah terhenti dan pemerintah setempat menyalahkan Rusia yang terus membombardirnya.












