Ancaman virus corona di penjara berjejal El Salvador: Ditahan selama 24 jam, sel padat terancam 'bom waktu' Covid-19

Inmates look out of an overcrowded cell in the Penal Center of Quezaltepeque, El Salvador. 9 November, 2018

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Penjara yang terlalu penuh penghuni termasuk mudah ditemukan di Amerika Latin. Narapidana biasanya berjejalan di sel sempit. Tak mungkin mereka bisa menjaga jarak. Ditambah dengan fasilitas kesehatan yang buruk, virus corona akan menyebar di sana seperti api di kayu bakar.

Perserikatan Bangsa-bangsa telah menyerukan agar negara-negara anggotanya melindungi narapidana, dan menyarankan agar mereka yang paling rentan dilepaskan untuk mengatasi persoalan penjara yang kepenuhan.

Chile, Kolombia dan Nikaragua telah mengumumkan akan memindahkan ribuan narapidana ke tahanan rumah, dengan prioritas diberikan kepada orang tua, perempuan hamil dan mereka yang berpenyakit.

Brasil sudah mulai memindahkan sekitar 60 narapidana jadi tahanan rumah, sementara Peru mengatakan sedang merencanakan pemberian amnesti kepada narapidana yang paling rentan.

Inmates sit in their cell while others lie in hammocks in Chalatenango Penal Center, El Salvador 7 November , 2018

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Namun hingga kini El Salvador belum melakukan apa-apa, padahal mereka adalah negara dengan jumlah narapidana per kapita tertinggi di dunia sesudah Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, El Salvador dilanda persoalan kekerasan antar geng dan penjara mereka kewalahan.

Juru foto Tariq Zaidi menghabiskan dua tahun mendokumentasikan kondisi di penjara-penjara El Salvador sebelum wabah virus corona menyebar di Amerika Tengah.

Ia memperoleh akses ke enam penjara, dan dua tahanan polisi guna menampilkan pemandangan yang jarang dilihat di dalam penjara negara Amerika Tengah ini.

Tattooed gang members stand in their holding cells at Bartolinas Policiales de Lourdes, Colon, San Salvador. 28 September 2019

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Selain jumlah narapidana terbesar per kapita, El Salvador juga merupakan salah satu negara tengan tingkat pembunuhan per kapita terbesar di dunia.

Namun angka ini menurun dari puncaknya 17,6 pembunuhan per hari di tahun 2015 ke angka 3,6 pembunuhan per hari di bulan Oktober 2019 dan turun lagi ke 2,1 di bulan Maret 2020.

Penurunan ini terjadi sejak President Nayib Bukele memerintah Juni 2019.

Ia sama sekali tidak mentolerir kekerasan antar geng, dan ini diterapkan juga di penjara-penjara di El Salvador.

Anggota geng tidak boleh menerima kunjungan dan tak diperkenankan membawa telepon.

Mereka dikurung di penjara 24 jam setiap hari. Hanya jika situasi di dalam dan luar penjara tenang, maka jam kunjungan bisa diterapkan kembali.

Inmates look out of an overcrowded cell, while a man wears a bandana across his face because of the putrid smell. Penal Center of Quezaltepeque, El Salvador. November 9, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Sebelum Bukele berkuasa, sebuah program bernama "Yo cambio" (Saya berubah) menawarkan narapidana untuk mempelajari ketrampilan untuk meningkatkan peluang mereka untuk bekerja.

Inmates in the "Yo Cambio" (I Change) Program relax while others knit. Apanteos Penal Institute, El Salvador. 5 November 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

A member of the La 18 gang does some painting, centre, while another inmate does some embroidery, right, as part of the Yo Cambio program at the Ilopango Women's Prison, El Salvador November 6, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Beberapa bahkan membuat desain mereka sendiri dan memamerkannya di peragaan busana di dalam penjara.

Prisoners display their fashion creations as part of the "Yo Cambio" or "I Change" program, which attempts to rehabilitate prisoners, at the Penal Center of Quezaltepeque, El Salvador. November 9, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Mengingat parahnya persoalan geng di El Salvador dan fakta bahwa penyerangan di luar penjara terjadi karena perintah dari dalam penjara, banyak yang khawatir jika narapidana dilepaskan, perang antar geng akan memanas.

Carlos, last name not given, (38) stands for a photograph at the Penal San Francisco Gótera, El Salvador. November 8, 2018. Right - Portrait of a gang member at the Ilopango Women's Prison, El Salvador. November 6, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Penjaga penjara secara rutin memakai topeng balaklava untuk melindungi identitas mereka, sehingga anggota keluarga mereka tidak menjadi sasaran kekerasan geng.

Women prison guards, wearing balaclavas to protect their identities, stand in front of a portrait of Nelson Mandela at the Penal Center of Quezaltepeque, El Salvador. November 9, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Namun penjara yang terlalu penuh bisa menjadi titik panas penyebaran virus corona.

Penyakit pernapasan sudah tinggi di dalam penjara. Penderita tuberkulosis di penjara El Salvador 50 kali lipat daripada di luar penjara, menurut Pan American Journal of Public Health Study.

Mengingat bahwa Covid-19 dan TB menyebar dengan cara yang sama, pihak berwenang kelimpungan mempersiapkan diri menghadapi apa yang disebut oleh ahli infeksi Jorge Panameño sebagai “bom waktu” yang siap meledak.

Inmates play cards while others watch, at the Chalatenango Penal Center, El Salvador. November 7, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Presiden Bukele telah melakukan serangkaian perubahan di penjara El Salvador.

Tanggal 26 Desember – sebelum virus corona menyebar di El Salvador – ia mengumumkan bahwa penjara Chalatenango (gambar atas) akan diubah menjadi universitas.

Sebanyak 600 narapidana akan dipindahkan, dan kata presiden di Twitter – tanpa rincian – sisanya sebanyak 730 narapidana akan dipindakan beberapa hari kemudian.

Sekalipun Presiden Bukele lekas memerintahkan pembatasan gerak secara nasional dan jam malam untuk melawan penyebaran virus, tidak ada kebijakan resmi untuk melepaskan narapidana.

Penjara di El Salvador berkapasitas menampung 18.051 tetapi kini ada lebih dari 38.000 narapidana di sana.

Sebelum ada masalah virus corona, banyak kematian di penjara disebabkan panas, kondisi yang tidak sehat dan tuberkulosis.

Inmates look out of an overcrowded cell in the Penal Center of Quezaltepeque, El Salvador. 9 November, 2018

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Pandemi virus corona ini menghadirkan masalah besar bagi Presiden Bukele.

Guna bersiap menghadapi virus corona di penjara, presiden telah melonggarkan beberapa tindakan keras yang ia terapkan untuk mengendalikan narapidana.

A female inmate looks out of her cell at the Ilopango Women's Prison, El Salvador. November 6, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Terlebih lagi, pengadilan di El Salvador mengeluarkan pendapat bahwa narapidana berusia di atas 60 dan berpenyakit parah harus dikeluarkan untuk sementara – meski ini tidak berlaku untuk anggota geng.

An inmate and former La 18 gang member plays the guitar at the Penal San Francisco Gótera, El Salvador. November 8, 2018.

Sumber gambar, Tariq Zaidi

Ini dilema yang dihadapi Bukele: jika ia melepaskan anggota geng, maka perang antar geng yang selama ini berhasil ia tekan, akan meledak lagi. Sementara jika ia biarkan, jumlah infeksi virus corona yang akan meledak di dalam penjara.

Pemilik hak atas foto-foto ini adalah Tariq Zaidi. Anda bisa ikuti karya-karyanya yang lain di akun Instagram, Facebook dan situ web Tariq.