Bagaimana rasanya hidup di kota yang terbelah oleh para penembak jitu?

Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman yang terletak di barat laut negara itu, telah menyaksikan perang saudara yang berjalan berkepanjangan sejak 2015.
Dikenal sebagai kota penembak jitu, Taiz terbelah, sebagian dikuasai oleh pasukan pemberontak Houthi dan sebagian lainnya oleh pasukan yang setia pada pemerintah.
Selama bertahun-tahun kota ini berada dalam pengepungan.

Sejak serangan udara yang memulai perang udara di Yaman dilancarkan oleh pasukan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, penduduk kota Taiz merasa bahwa mereka dilupakan.
Wartawan BBC Lyse Doucet mendapatkan akses untuk melihat kota ini dari sisi yang dikuasai oleh pemerintah.
Terbelah
Di kota Taiz, kota terbelah oleh tembok di mana di satu sisi dikuasai oleh pasukan pemerintah dan di sisi lain dikuasai oleh pemberontak Houthi.
Penduduk yang tinggal di sekitar dinding mengatakan ia harus berhati-hati jika keluar melewati batas dinding itu, karena para penembak jitu sering melakukan penembakan tidak pandang bulu.
Perang di Taiz berlangsung lebih lama daripada di bagian lain di Yaman, sehingga banyak sekali tempat yang kini menjadi puing-puing.

Namun di tempat-tempat yang masih aman, anak-anak tetap melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk memperebutkan es krim dari para penjual keliling.
Seorang anak mengaku ia marah dengan keadaan Yaman.
"Keadaan ini sulit, ingin membuat saya menangis". kata seorang anak.
Enam hari
Taiz adalah salah satu kota paling banyak dibom oleh pasukan koalisi yang dimpimpin Saudi, dan ini memakan banyak sekali korban sipil.

Ini dialami oleh Marwan, salah seorang warga Taiz.
Keluarganya, total 10 orang, menjadi korban pengeboman itu, sementara delapan orang tetangganya juga tewas dalam serangan.
"Serangannya sangat agresif," kata Marwan. "Tubuh manusia terpotong-potong dan beterbangan ke mana-mana".
"Kami harus mencari-cari di atap, dan di semak-semak. Perlu waktu enam hari untuk mengeluarkan jenazah dari reruntuhan".
Menurut Marwan, hingga kini - empat tahun sesudah perang mulai - belum ada pihak yang bertanggung jawab atau membantu mereka akan situasi ini.

Tak ada yang menolong
Penduduk lainnya, Zara, mengatakan bahwa rumahnya terkena peluru kendali, dan menewaskan anaknya yang terkecil.
Selama bertahun-tahun Zara kehilangan anggota keluarga.
"Tak ada yang menolong kami. Semua menjual Yaman untuk kepentingan pribadi," kata Zara.
"Tak ada yang menolong pihak yang lemah, tak ada yang menolong orang miskin. Baik itu pemerintah Yaman maupun Houthi," tambahnya.

Pasukan pemberontak Houthi menguasai sepertiga kota Taiz, mereka berdiam di kawasan perbukitan di sekitar kota.
Sekalipun demikian, pasukan pemberontak menguasai mayoritas jalan-jalan di kota Taiz, praktis membuat kota itu jadi terisolir.
Jalan masuk ke kota Taiz hanya tinggal melalui satu jalur di selatan kota yang masih aman dari tembak menembak.

Biasanya dibutuhkan waktu lima menit untuk melintasi kota Taiz menuju kota terdekat, tetapi dengan adanya blokade dari suku Houthi, perjalanan ke kota lain memakan waktu antara enam hingga delapan jam.
Perjalanan itu ditempuh dengan melalui pos pengecekan dan jalan tak beraspal.

Blokade mematikan
Seorang pegiat dari kelompok yang berupaya menghentikan pemblokiran kota, Dahlia Nasser, menyatakan bahwa blokade itu harus dihentikan.
"Hidup berhenti sepenuhnya. Banyak murid perempuan yang harus berhenti sekolah. Pasien kanker dan penyakit-penyakit berat lainnya tak bisa mengakses rumah sakit di pusat kota," katanya.
"Karena blokade ini, hidup menjadi sulit dan mematikan".
Makanan masih ada, tetapi menjadi mahal harganya.
Penduduk juga tak punya banyak uang untuk dibelanjakan.

Air bersih didapatkan dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang beropreasi di sana, karena perang sudah menghancurkan fasilitas publik.
Kehidupan seakan berada dalam keadaan jeda di Taiz.
Penduduk tak punya banyak pilihan kecuali terus berusaha mempertahankan harga diri mereka di tengah perang.
Di kota yang terbelah ini menjadi cermin bagaimana perang menghentikan kehidupan warganya.











