Israel diuntungkan, Palestina rencanakan 'hari kemarahan' dalam rencana perdamaian Trump

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Jeremy Bowen
- Peranan, Redaktur urusan Timur Tengah BBC, Yerusalem
Harapan perdamaian antara Israel dan Palestina bisa digambarkan seperti waktu yang terjebak antara malam yang paling kelam dan fajar yang menyilaukan. Sebagian besar harapan perdamaian ini berada dalam kegelapan malam.
Setiap kali kita mendengar referensi untuk pembaruan "proses perdamaian", fakta yang terjadi adalah sulit untuk menghidupkan kembali upaya yang telah lama mati.
Mungkin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang seperti biasa tak pernah bisa diduga, akan menimbulkan kejutan diplomatik besar.
Namun, jika dokumen yang baru saja bocor terbukti benar, Trump tampaknya bersiap untuk mengumumkan kesepakatan yang sesuai dengan harapan pendukungnya dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Presiden Trump mungkin meyakini - tanpa keraguan - bahwa dia menawarkan "kesepakatan abad ini".

Kesepakatan ini mungkin besar bagi Netanyahu.
Israel bisa jadi diberikan lampu hijau untuk mencaplok sebagian besar Tepi Barat yang diduduki berdasarkan daerah-daerah di mana warga Yahudi telah menetap.
Orang-orang Palestina akan diberitahu bahwa adalah mereka harus menerima kenyataan demi kepentingan terbaik mereka, berkonsentrasi pada pemanis ekonomi.
Palestina sudah memboikot pemerintahan Trump karena agenda yang jelas-jelas pro-Israel, dan mereka merencanakan "hari kemarahan" pada Selasa (28/01).
Konflik yang selalu membara
Kesepakatan Presiden Tump mungkin lebih terlihat sebagai dokumen penyerahan, sebuah kesempatan bagi Israel untuk menyegel kemenangannya atas Palestina, tujuh dekade setelah negara itu memproklamasikan kemerdekaanya, dan lebih dari satu abad sejak permukiman Zionis di Palestina dimulai.
Sebagian besar orang Israel mengatakan bahwa Zionisme dan penciptaaan negara mereka adalah kembalinya orang-orang teraniaya ke tanah air mereka yang memiliki nilai sejarah dan agama yang tinggi.
Namun, kebanyakan orang Palestina akan mengatakan bahwa Zionisme bertanggungjawab atas penjajahan dan pencaplokan tanah mereka.
Apapun cara Anda memandangnya, konflik terjadi sejak abad ke-2 M selalu membara dan sering berkobar.
Melalui semua mediasi bertahun-tahun dalam pembicaraan damai antara Israel dan Palestina, prioritas utama AS selalu menjadi menyangkut keinginan, kendala dan keamanan bangsa Israel.
Tetapi presiden-presiden Amerika terdahulu menerima bahwa perdamaian mensyaratkan adanya negara Palestina bersama Israel.
Israel berargumen bahwa Palestina menolak serangkaian tawaran baik.
Para perunding Palestina mengatakan mereka membuat konsesi besar, paling tidak menerima keberadaan Israel di sekitar 78% dari tanah bersejarah mereka.
Harapan pupus
Perdamaian yang dinegosiasikan hampir dapat dicapai 30 tahun yang lalu.
Serangkaian pembicaraan rahasia di Norwegia menjadi proses perdamaian Oslo, yang selamanya dilambangkan dengan upacara di halaman Gedung Putih pada tahun 1993 yang dipimpin oleh Presiden AS kala itu, Bill Clinton
Yitzhak Rabin, pemimpin perang terhebat Israel, dan Yasser Arafat - simbol harapan Palestina, menandatangani dokumen yang menjanjikan negosiasi masa depan, bukan memperjuangkannya.
Kedua musuh bebuyutan itu bahkan berjabatan tangan. Rabin, Arafat, dan menteri luar negeri Israel, Shimon Peres, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.

Sumber gambar, Getty Images
Perjanjian Oslro adalah momen historis.
Palestina mengakui negara Israel, sementara Israel menerima bahwa Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mewakili orang-orang Palestina.
Keretakan muncul di Oslo. Benjamin Netanyahu menyebutnya sebagai ancaman besar bagi Israel.
Beberapa warga Palestina, seperti akademisi Edward Said, mengutuk itu sebagai penyerahan diri.
Militan Palestina dari Hamas, Gerakan Perlawanan Islam, mengirim pembom bunuh diri untuk membunuh orang-orang Yahudi dan menghancurkan peluang kesepakatan.
Suasana di Israel berubah buruk. Yitzhak Rabin dibenci oleh beberapa rekannya dan dianggap tak lebih baik dari Nazi. Dalam sebuah aksi demonstrasi, dia digambarkan sebagai perwira SS Nazi.

Sumber gambar, Getty Images
Gejolak ini memuncak ketika dia dibunuh oleh seorang ekstrimis Yahudi pada 4 November 1995.
Pembunuh Rabin ingin menghancurkan proses perdamaian, dan dia meyakini cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menghilangkan senjata Israel yang terbaik. Dia benar.
Bahkan, jika Rabin masih hidup, Perjanjian Oslo bisa jadi tetap gagal, dikalahkan oleh rincian kecil dan masalah besar seperti masa depan Yerusalem, yang diutarakan oleh para pemimpin di kedua belah pihak yang lebih suka konflik dibanding kompromi. Yang terjadi setelah itu sampai sekarang pendudukan Israel dan Palestina yang terus menentang.
Israel terus ekspansi pendudukan Yahudi
Beberapa diplomat dan pemimpin dunia berusaha untuk menyelamatkan Perjanjian Oslo.
Namun, itu dianggap sebagai harapan palsu, diikuti oleh sinisme, ketidakpercayaan, pengkhianatan dan kekerasan.
Israel mempercepat proyeknya untuk pendudukan ratusan ribu orang Yahudi di tanah yang direbutnya dalam perang Timur Tengah 1967 di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, wilayah yang masih diinginkan Palestina menjadi bagian dari negaranya.
Israel menegaskan apa yang dilakukan itu legal.
Sebagian besar dunia meyakini bahwa Israel melanggar hukum internasional, yang melarang penyelesaian kependudukan warga negara di tanah yang didudukinya.
Waktu pengumuman mungkin berkaitan dengan kebutuhan politik dan hukum Trump dan Netanyahu seperti halnya dengan peluang terobosan diplomatik.
Keduanya menghadapi pemilihan umum, dan penuntutan hukum.
Trump sedang dimakzulkan, diadili di Senat AS untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Netanyahu menghadapi dakwaan pidana korupsi, penyuapan dan pelanggaran kepercayaan.
Parlemen Israel akan membahas untuk memberikannya kekebalan saat dia berada di Washington.
Upaya perdamaian yang gagal bisa berbahaya.
Runtuhnya pertemuan puncak perdamaian Camp David pada tahun 2000 diikuti oleh pemberontakan Palestina.
Taruhannya berat, dan peluang keberhasilannya rendah.











