Amerika Serikat meminta Iran bercermin pada diri sendiri setelah serangan berdarah di parade militer

Nikki Haley

Sumber gambar, Spencer Platt/Getty Images

Keterangan gambar, Nikki Haley meminta Iran untuk berkaca pada diri sendiri sebelum menuding negara-negara lain.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, menepis tuduhan Presiden Iran, Hassan Rouhani, bahwa Washington dan negara-negara Teluk sekutunya terlibat dalam serangan berdarah dalam parade militer di Ahvaz, Iran selatan.

Nikki Haley mengatakan kesalahan sepenuhnya berada di tangan otoritas Iran dan serangan terjadi karena rakyat Iran sudah muak ditindas.

"Ia (presiden Iran) perlu melihat ke dalam untuk mengetahui dari mana asal serangan itu. Saya pikir rakyat Iran sudah muak," kata Nikki Haley, Minggu (23/09).

Empat pria bersenjata menembaki pasukan Garda Revolusi saat parade militer di kota Ahvaz. Serangan pada Sabtu (22/09) yang terdiri dari tentara dan warga biasa, termasuk seorang anak berusia empat tahun.

Warga Iran

Sumber gambar, MORTEZA JABERIAN/EPA

Keterangan gambar, Tentara dan warga Iran berhamburan menyelamatkan diri ketika terjadi tembakan dalam parade militer di Ahvaz, Iran selatan, Sabtu (22/09).

Presiden Iran Hassan Rouhani menuduh negara-negara Teluk sekutu Amerika Serikat mendukung mereka yang berada di balik penembakan tetapi ia tidak menyebut nama-nama negara.

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei juga menuding Amerika Serikat berada di balik serangan itu dengan mengatakan para pelaku merupakan ulah 'boneka-boneka Amerika Serikat' yang mencoba 'menciptakan ketidakamanan" di Iran.

Parade militer

Sumber gambar, ABEDIN TAHERKENAREH/EPA

Keterangan gambar, Parade militer digelar tahunan untuk memperingati invasi Irak ke Iran pada tahun 1980. Dalam parade di Teheran ini tampak potrait Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di samping kendaraan militer.

Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, mengatakan tuduhan Iran itu tidak berdasar.

Dua kelompok yang berbeda, kelompok Arab anti-pemerintah Iran, Perlawanan Nasional Ahvaz, dan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun keduanya sama-sama tidak menyertakan bukti-bukti.