Presiden Trump umumkan tarif atas produk Cina senilai Rp826 triliun

Donald Trump

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Presiden Trump mengatakan AS sedang berunding dengan Cina: Kita tunggu kemana perundingan itu membawa kita."

Amerika Serikat merencanakan tarif atas sekitar US$60 miliar atau Rp826 triliun atas produk Cina dan membatasi kegiatan investasinya di AS sebagai sanksi atas yang diduga pelanggaran hak kekayaan intelektual selama bertahun-tahun.

Gedung Putih mengatakan langkah itu diperlukan untuk menghadapi persaiangan yang tidak adil dengan ekonomi Cina yang didukung oleh negara.

Ditambahkan bahwa perundingan selama bertahun-tahun tentang masalah itu gagal membawa perubahan.

Cina mengatakan siap membalas dengan 'langkah-langkah yang diperlukan'.

Lamnglkah terbaru ini -menyusul penerapan tarif impor baja dan aluminium beberapa waktu lalu- makin meningkatkan kecemasan akan terjadinya perang dagang.

Saat menandatangani memo yang membuka jalan untuk penerapan tarif itu, Presiden Donald Trump mengatakan dia mengupayakan kondisi perdagangan yang timbal balik untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

"Kami sudah berbicara dengan Cina dan kami sedang dalam perundingan yang amat besar," tuturnya saat menandatangani keputusan terbaru ini. "Kita tunggu ke mana perundingan itu membawa kita."

Ditambahkannya bahwa tarif yang diterapkan bisa mencapai US$60 miliar, lebih besar dari US$50 miliar yang diumumkan Gedung Putih sebelumnya.

Latar belakang tarif

Penerapan tarif bea masuk ditempuh menyusul penyelidikan atas kebijakan Cina, yang diperintahkan Presiden Trump pada Agustus lalu.

Menurut Gedung Putih, kajian yang disebut dengan istilah 'Penyelidikan 301' menemukan serangkaian praktik yang 'tidak adil', termasuk pembatasan kepemilikan asing di Cina yang memaksa perusahaan-perusahaan melakukan transfer tekonologi.

Robert Lighthizer

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Juru runding senior AS, Robert Lighthizer, mengatakan melindungi teknologi amat penting bagi masa depan ekonomi AS.

Amerika Serikat juga menemukan bukti bahwa Cina menerapkan kondisi yang tidak sehat untuk perusahaan-perusahaan AS, mengarahkan investasi atas industri strategis AS, dan melakukan maupun mendukung serangan siber.

Ditambahkan bahwa sudah ada daftar dari 1.000 lebih produk yang akan dikenakan tarif namun dunia usaha masih diberi kesempatan untuk memberi tanggapan sebelum penyusunan daftar tetap.

Selain itu AS juga mengkaji upaya untuk membatasi investasi AS di Cina dan untuk menyampaikan protes terkait kondisi lisensi yang tidak adil ke Organisasi Perdagangan Dunia, WTO.

Perunding perdagangan senior Amerika Serikat, Robert Lighthizer, mengatakan bahwa melindungi teknologi Amerika Serikat amat penting bagi masa depan perekonomian negara itu.

"Ini merupakan aksi yang amat penting, amat berarti, dan amat, amat penting bagi masa depan negara ini."

Reaksi Cina

Kementrian Perdagangan Cina sudah menyatakan siap untuk mengambil tindakan balasan atas tarif baru ini.

"Cina tidak akan duduk diam dan membiarkan hak dan kepentingannya yang sah diganggu dan tentu akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk membela hak dan kepentingannya yang sah."

Harian bisnis terkemuka, Wall Street Journal, melaporkan Cina sedang menyiapkan pukulan balik dengan tarif yang akan ditujukan pada basis pendukung Presiden Donald Trump.

Tarif itu mungkin mencakup untuk produk-produk pertanian dari negara-negara bagian Farm Belt, yang dikenal juga dengan kawasan midwestern atau bagian dalam Amerika Serikat.

Perdagangan barang AS-Cina

Sumber gambar, BBC Indonesia

Frank Lavin -mantan duta besar AS untuk Singapura yang kini memimpin lembaga konsultan dagang ke Cina, Export Now- mengatakan Cina biasanya akan mengambil tindakan balasan namun akan mencegah eskalasi masalah.

Para pengamat berpendapat jika tarif diterapkan maka akan menyebabkan harga tinggi bagi konsumen dan aksi balas dendam Cina juga akan memukul sektor ekonomi AS yang penting, seperti pertanian dan industri ruang angkasa.

Cina merupakan pasar ketiga terbesar bagi produk ekspor AS dan merupakan pembeli terbesar kedelai, jagung, daging babi, dan pesawat terbang produk Amerika Serikat.