Sepuluh pertanyaan untuk memahami konflik Suriah

Sumber gambar, AFP
Sekitar 400.000 warga sipil masih terperangkap dalam kantung yang dikuasasi pemberontak di Ghouta timur, di dekat ibu kota Suriah, Damaskus.
Ada pengumuman penghentian sementara pertempuran agar warga sipil bisa keluar, namun pengeboman masih saja berlanjut.
Perang saudara yang terjadi sejak 2011 menewaskan lebih dari 470.000 orang menurut lembaga swadaya masyarakat Pusat Penelitian Kebijakan, Syrian Center for Policy Research (SCPR).
Dalam beberapa minggu terakhir saja, korban meninggal di Ghouta mencapai 719 orang, menurut SCPR.
Badan pengungsi PBB, UNHCR mengatakan lima juta orang melarikan diri dari Suriah.

Sumber gambar, AFP
Sepuluh pertanyaan di bawah akan membantu pemahanan tentang konflik Suriah.
1. Apa yang terjadi di Ghouta Timur?
Pada bulan Februari, pemerintah Suriah dan sekutu mereka meningkatkan serangan militer terhadap daerah yang dikuasasi pemberontak termasuk Ghouta Timur, yang diduduki penentang Presiden Bashar al-Assad sejak 2012.
Daerah ini digempur terus dan dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang dalam beberapa minggu terakhir. PBB memperkirakan 76% rumah penduduk di Ghouta Timur hancur. Mayoritas 400.000 warga saat ini berlindung di perlindungan bawah tanah.

Sumber gambar, EPA
Pasukan pemerintah dituduh menggunakan senjata kimia dalam serangan itu. Pada akhir Februari lalu, seorang anak dan 13 orang mengalami kesulitan pernafasan, gejala yang dikaitkan dengan gas klorin.
Para pejabat pemerintah menyanggah tuduhan itu. Ini bukan yang pertama. Pada Agustus 2013, badan intelijen barat menuduh Damaskus menggunakan gas sarin untuk menyerang Ghouta yang diduga menewaskan "ratusan orang."
Assad menyanggah klaim itu dan menyalahkan pemberontak berada di balik serangan itu. Namun Assad setuju untuk menghancurkan senjata kimia Suriah. Tetapi di tengah janji itu, badan yang melarang senjata kimia, Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), melaporkan insiden senjata kimia di Suriah.
Ghouta Timur menghadapi krisis kemanusiaan. Bantuan mulai tiba di daerah itu pada tanggal 15 Maret dan harga makanan termasuk beras dan roti meningkat tajam.
Kekurangan gizi pada anak mencapai angka hampir 12%, anak-anak balita.
2. Bagaimana reaksi internasional?
Pada tanggal 24 Februari, PBB menyepakati gencatan senjata 30hari di Ghouta Timur, namun gagal tak lama kemudian. Tekanan internasional yang dipimpin Rusia, sekutu dekat Assad, mengumumkan "penghentian pengeboman dengan alasan kemanusiaan" namun Ghouta tetap dihujani bom.
Berdasarkan rencana Rusia, gencatan senjata dilakukan lima jam sehari untuk memungkinkan warga sipil menyelamatkan diri melalui koridor khusus didampingi badan-badan bantuan.
Baru pada tanggal 5 Maret lalu, warga sipil Ghouta mendapat bantuan dengan datangnya 46 truk makanan dan obat. Tetapi pertempuran menyebabkan konvoi bantuan balik arah dan tak berhasil seluruhnya disalurkan.

Sumber gambar, AFP
3. Apa peranan Rusia?
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dibentuknya koridor kemanusiaan dan ini menunjukkan Moskow mengambil keputusan terlebih dahulu sebelum pemerintah Suriah mengambil tindakan.
Rusia memainkan peranan penting dalam perang saudara Suriah dengan pasukan udara yang dikerahkan Moskow menggempur daerah pemberontak. Tetapi di tengah pengumuman koridor kemanusiaan, Suriah teap menaytakan akan melanjutkan serangan terhadap apa yang mereka sebut "pasukan jihad."
4. Apa kemungkinan hasil perang ini?
Perang sipil Suriah meningkat pada bulan Februari lalu setelah pasukan pemerintah bergerak mengambil alih daerah yang dikuasai pemberontak.
Sejumlah pakar mengatakan inti dari konflik ini - pemberontakan terhadap Assad- kemungkinan segera berakhir. Kelompok ekstremis yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS, telah kehilangan kekuasaan di Suriah dan Irak, walaupun belum sepenuhnya dikalahkan.

Sumber gambar, AFP
Pertempuran juga terjadi di bagian lain Suriah.
Afrin, di barat daya misalnya, juga menjadi sasaran pengeboman oleh pasukan Turki Januari lalu, sebagai bagian dari operasi menangkal pasukan Kurdi.
Sebagian kawasan Suriah di dekat Turki dikuasai oleh Turki dan Ankara khawatir daerah itu berusaha memerdekakan diri. Minoritas etnis di sana terdiri dari 15%-20% penduduk Turki.
Di barat daya Suriah, Israel terlibat dalam operasi yang didukung Iran dan Suriah. Ini adalah bukti bahwa konflik Suriah telah meluas menjadi perang persaingan di kawasan.
5. Bagaimana situasi di Suriah sebelum konflik?
Sebelum dimulainya protes keras terhadap rezim Assad, banyak warga Suriah mengeluh tentang tingginya angka pengangguran, korupsi di kalangan pegawai negeri dan tak adanya kebebasan politik.
Pada bulan Maret 2011, para remaja yang menulis slogan anti pemerintah di gedung-gedung sekolah di kota Deraan, terpinsirasi pemberontakan di Mesir dan negara Arab lain, ditahan dan disiksa pasukan keamanan.
Insiden itu memicu protes di seluruh Suriah yang segera diredam pasukan pemerintah termasuk dengan melepaskan tembakan ke arah warga sipil. Ketegangan meningkat dan banyak yang turun ke jalan menuntut Assad mundur.

Sumber gambar, Reuters
6. Bagaimana perang bermula?
Diredamnya aksi protes menyebabkan pendukung oposisi mengusung senjata pada Juli 2011.
Walaupun presiden Assad berjanji untuk meredam apa yang ia sebut "terorisme yang didanai orang asing," kerusuhan meningkat cepat di Suriah. Pasukan pemberontak juga meningkat dan menjadi ratusan kelompok yang berperang melawan pasukan pemerintah dan menguasai sejumlah desa dan kota-kota.
Pada 2012, pertempuran mencapai Damaskus dan kota kedua terpenting Suriah, Aleppo.
Saat itu, konflik telah menjadi pertempuran antara pasukan pemerintah dan oposisi. Perang juga meluas menjadi sektarian antara mayoritas Sunni melawan Shiah, minoritas yang menguasai negara.

Sumber gambar, Reuters
Itulah yang menyebabkan negara-negara lain ikut terlibat.
7. Siapa menghadapi siapa?
Pemberontakan bersenjata berubah drastis saat konflik berlanjut. Kelompok oposisi moderat kalah dari kelompok radikal yang tergabung dalam ISIS dan juga Front Nusra yang tekrait al-Qaida.
Pejuang ISIS membentuk "perang di dalam perang", melawan pemberontak moderat dan juga kelompok Nusra.
Saat ini, kelompok itu diredam di sejumlah tempat walaupun masih melakukan serangan sporadis.
Kelompok lain yang terlibat adalah pejuang Kurdi yang dibantu Amserika Serikat di Suriah utara dengan senjata dan serangan udara.
Pada 2015, Rusia mulai mengebom untuk membantu Assad mengalahkan pemberontak. Dengan bantuan gerakan Hezbollah Lebanon dan Iran dari darat, menyulitkan perang berakhir.
Kemenangan terbesar yang dibantu Rusia adalah mengambil alih Aleppo pada Desember 2016, kota yang menjadi salah satu markas utama oposisi.

Sumber gambar, Reuters
8. Bagaimana pihak asing terlibat
Saat Barack Obama memberintah, Amerika Serikat menyalahkan Assad atas sebagian besar akibat konflik dan menuntut agar ia menyerahkan kekuasaan sebagai salah satu syarat damai.
Tetapi posisi itu berubah setelah Donald Trump memerintah. Pemerintahan Trump berfokus pada memerangi ISIS.
Namun setelah adanya dugaan serangan kimia di kota Khan Sheikhoun pada April 2017, President Trump menerapkan pendekatan lebih keras terhadap Assad dan bahkan memerintahkan penyerangan untuk membantu pihak oposisi menghadapi pemerintah.
Tetapi, yang paling berpengaruh adalah Rusia, yang mendukung Assad. Rusia memiliki pangkalan laut dan udara di Suriah.
Iran dengan mayoritas Shiah juga mendukung Assad. Suriah adalah rute utama yang dipakai Iran untuk mengirimkan senjata ke sekutu mereka, milisi Hezbollah di Lebanon.
Hezbollah mengirimkan ribuan petempur untuk mendukung pasukan pemerintah Suriah.
Tehran diperkirakan mengirimkan miliaran dolar untuk mendukung pasukan Assad.

Sumber gambar, Reuters
Di pihak lain, Arab Saudi, saingan utama Iran di Timur TEngah, mengirimkan bantuan militer ke pemberontak, termasuk ke kelompok-kelompok radikal.
Turki mendukung sebagian pemberontak Suriah, namun tak termasuk Kurdi. Posisi-posisi Kurdi menjadi sasaran Turki karena negara itu menganggap warga Kurdi Suriah merupakan sekutu PKK, paramiliter di Turki yang terlibat dalam konflik senjata dengan Ankara selama puluhan tahun.
9. Mengapa perang berlangsung begitu lama?
Faktor penting adalah keterlibatan pihak asing.
Dukungan militer, finansial dan politik baik kepada rezim ataupun oposisi menyebabkan eskalasi perang di Suriah.
Para pakar juga mengatakan keterlibatan pihak asing menyebabkan unsur sektarian dalam perang Suriah. Sebelum konflik, Suriah adalah negara sekuler.
Unsur agama memecahkan Sunni dan Syiah dan semakin mengobarkan kebencian antara kedua belah pihak. Tidak hanya korban jiwa namun harapan juga sirna akan tercapainya solusi damai.

Sumber gambar, Reuters
10. Apa pengaruh perang sejauh ini?
Tidak ada angka yang dapat dipastikan namun Syrian Center for Policy Research memperkirakan 470.000 orang meninggal sementara estimasi PBB mencapai 400.000.

Sumber gambar, Reuters
PBB juga memperkirakan lebih dari lima juta orang melarikan diri dan paling tidak 12 juta jiwa atau setengah dari penduduk Suriah, mengungsi akibat konflik.
Eksodus pengungsi adalah yang terbesar dalam tahun-tahun terkahir ini dan memberikan tekanan besar kepada sejumlah negara termasuk Lebanon, Yordania dan Turki. Sejumlah negara lain juga menerima pengungsi Suriah.
Paling tidak 10% pengungsi meminta suaka di Eropa dan menimbulkan perdebatan besar tentang siapa yang harus bertanggung jawab.

Sumber gambar, Reuters
Perkiraan PBB menyebutkan bantuan kemanusiaan diperlukan untuk sekitar 13.5 juta orang di Suriah, termasuk enam juta anak-anak dengan biaya sekitar US$3,2 miliar.
PBB juga mengatakan 70% penduduk Suriah tak punya akses air minum dan satu dari tiga warga Suriah hidup di bawah garis kemiskinan.
Paling tidak dua juta anak tak bersekolah.
Situasi di kawasan bergolak lebih parah lagi karena pihak-pihak yang bertikai menolak memberikan akses untuk bantuan kemanusiaan.











