Tiga perkara tentang krisis politik Libanon

Libanon, Beirut, Hariri

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, PM Saad Hariri menyapa pendukungnya di Beirut setelah menyatakan penangguhan pengunduran dirinya.

Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, sudah 'menangguhkan' pengunduran diri yang disampaikannya ketika dia berada di Arab Saudi dua pekan lalu.

Pengunduran diri itu memicu krisis politik di Libanon dan banyak warga yang meyakini dia didesak mengundurkan diri oleh Arab Saudi.

Hariri mengatakan penangguhan pengunduran diri itu sesuai permintaan Presiden Michel Aoun untuk konsultasi lebih lanjut. Keduanya bertemu setelah Hariri kembali dari Prancis, tujuannya setelah meninggalkan Arab Saudi pada akhir pekan lalu.

Dalam perjalanan pulang dari Pris ke ibu kota Beirut, dia sempat singgah di Kairo -salah satu kekuatan penting di Timur Tengah- dan Siprus.

Tapi kenapa Hariri mengundurkan diri dan bagaimana keterlibatan Arab Saudi dalam politik Libanon. BBC Indonesia menurunkan penjelasan singkat tentang politik Libanon dan kawasan.

Libanon, Beirut, Hariri, Aoun, Berri

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Tiga pemimpin yang mencerminkan pembagian kekuasaan Libanon bertemu Rabu (22/11): Ketua Parlemen Nabih Berri (kiri) pemeluk Islam Syiah, Presiden Michel Aoun (tengah) umat Kristen Maronit, dan PM Saad Hariri (kanan) dari Islam Sunni.

Kenapa mundur ketika di luar negeri?

Tanggal 4 November, Saad al-Hariri, mengumumkan pengunduran dirinya dari Arab Saudi lewat stasiun TV Al-Hariri, dengan alasan takut dibunuh.

Dia merujuk pada pembunuhan ayahnya, mantan PM Rafik al-Hariri pada 2005 lalu.

"Kita hidup di suasana serupa, dalam atmosfir yang terasa sebelum pembunuhan martir Rafik al-Hariri. Saya merasakan ada rencana sembunyi-sembunyi untuk mengincar nyawa saya," kata Saad al-Hariri di Riyadh.

Tidak jelas kenapa pengunduran dirinya diumumkan dari Riyadh namun pria penganut Islam Sunni ini memang punya hubungan erat dengan Arab Saudi dan bahkan memiliki kewarganegaraan ganda Libanon serta Arab Saudi.

Beirut, Libanon

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Banyak warga Libanon -termasuk para pendukung Hariri- yang yakin perdana menteri mereka ditekan Arab Saudi untuk mundur.

Selain dilaporkan punya bisnis di Arab Saudi, partai politiknya, Gerakan Masa Depan, juga mendapat dukungan dari pemerintah Riyadh.

Banyak yang menduga pengunduran dirinya karena tekanan Arab Saudi, mengingat putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman ingin menegaskan kembali peran negara kerajaan itu di kawasan.

Dan pengunduran diri Hariri menjadi semacam pesan atas protes keterlibatan Iran -yang merupakan saingan sengit Arab Saudi- di Libanon lewat dukungan atas gerakan Hisbullah.

Namun banyak warga Libanon yang tidak menerima pengunduran diri Hariri yang disampaikan dari luar negeri dan mengharapkan agar dia kembali dulu ke Libanon, yang dilakukannya pada Selasa (21/11).

Arab Saudi, Mohammed bin Salman

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilihat juga memiliki agenda mengimbangi dominasi Iran di kawasan.

Bagaimana kekuatan politik di Libanon?

Perang saudara yang berkecamuk di Libanon selama 15 tahun lebih -hingga tercapainya kesepakatan damai Taif yang ditandatangani pada Oktober 1989- membuat negara ini masih memerlukan pengaturan keseimbangan politik.

Dengan sistem pembagian kekuasaan maka perdana menteri berasal dari Islam Sunni -yaitu Saad Hariri- sementara presiden merupakan umat Kristen Maronit -Michel Aoun- dan ketua parlemen adalah orang Syiah, Nabih Berri.

Hal itersebut pada sisi lain juga membuat politik Libanon menjadi ringkih.

Tahun 2011, misalnya, pemerintahan Saad Hariri ambruk setelah Hizbullah -yang beraliran Islam Syiah- mundur sebagai protes atas empat anggotanya yang dituduh terlibat dalam pembunuhan ayah Saad tahun 2005 lalu.

Tiga tahun kemudian, 2014, ketika Michel Suleiman mundur dari kursi presiden, Hisbullah tidak mau mendukung calon yang bersikap bermusuhan dengan Hisbullah sehingga membuat negara itu tidak memiliki presiden selama 20 bulan.

Dan krisis politik terbaru ini, menurut Isaac Kfir -Kepala Pusat Kebijakan Kontra Terorisme di Australian Strategic Policy Institute, ASPI- tidak bisa dilepaskan dengan semakin meningkatnya peran putra mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, yang memeluk Islam Sunni.

Libanon, Hisbullah

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Gerakan Hisbullah yang bermarkas di Libanon diperkirakan memiliki 30.000 milisi dan mendapat dukungan dari Iran.

Dalam tulisannya di situs ASPI, Kfir mengatakan Pangeran Mohammed memiliki dua agenda, yaitu mereformasi Arab Saudi dan mengimbangi berkembangnya dominasi Iran di kawasan.

Maka Libanon menjadi penting bagi Pangeran Mohammed karena Hisbullah memiliki sekitar 30.000 milisi di negara itu.

Namun pada sisi lain, Iran jelas tidak akan membiarkan Libanon sepenuhnya di bawah kendali Arab Saudi berhubung pemerintah Teheran membutuhkan Hisbullah -yang diperkirakan memiliki 10.000 roket- untuk menghadapi Israel.,

Jadi bisa dibilang keseimbangan politik Libanon selama ini menjadi terganggu karena perubahan politik di Arab Saudi dan semakin berperannya Iran beberapa tahun belakangan dalam konflik di kawasan, seperti Suriah dan Irak.

Seperti apa jalan keluarnya?

Di istana presiden Libanon saat perayaan kemerdekaan Libanon, Rabu (22/11), Hariri mengatakan dia sepakat pengunduran dirinya ditangguhkan demi dialog para pemimpin politik di negara itu.

Dalam kesempatan tersebut dia juga menegaskan netralitas Libanon dalam sengketa dan konflik kawasan serta yang disebutnya sebagai 'semua yang merongrong stabilitas internal serta hubungan persaudaran di antara saudara-saudara Arab'.

Wartawan BBC di Beirut, Martin Patience, melaporkan bahwa penangguhan pengunduran diri Hariri bisa dilihat sebagai pukulan bagi Arab Saudi.

Libanon, Hassan Nasrallah

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Warga mendengarkan pidato pimpinan Hisbullah, Hassan Nasrallah, yang antara lain membantah mengirim senjata ke pemberontak Houthi di Yaman.

Namun dalam beberapa hari akan diupayakan kesepakatan-kesepakatan politik di belakang layar untuk memecahkan krisis politik Libanon walau jalan keluarnya tetap membutukan keterlibatan kekuatan di kawasan serta komunitas internasional

Hariri, tambah wartawan kami, sudah membuka kemungkinan akan tetap bergabung dengan pembagian kekuasaan jika Hisbullah menghormati kebijakan Libanon untuk tidak campur tangan dalam konflik kawasan.

Hari Senin (20/11), pemimpin Hisbullah, Hassan Nasrallah, sudah membantah tegas mengirim senjata ke Yaman, yang sedang dilanda perang antara pemerintah yang mendapat dukungan dari koalisi pimpinan Arab Saudi dengan kelompok pemberontak Houthi, yang mendapat dukungan dari Iran.

Bagaimanapun pernyataan itu tampaknya tidak akan langsung menenangkan Arab Saudi.

Libanon memang masih terperangkap di tengah konflik dua kekuatan di kawasan dan belum terlihat jalan keluarnya walau jelas penundaan pengunduran diri Saad Hariri memberi waktu yang amat berharga untuk perundingan.

Bekas-bekas perang saudara selama 15 tahun masih belum terhapus bersih di Libanon.