Heboh foto 100 % politikus pria yang bahas UU berdampak pada perempuan

Mike Pence and Freedom Caucus

Sumber gambar, White House

Keterangan gambar, Wapres Mike Pence dan para anggota Kaukus Kebebasan mendiskusikan RUU Layanan Kesehatan. Dalam foto itu, tiada satu pun perempuan yang terlihat.

Foto ini menggambarkan sesuatu yang lazim berlangsung di ruang rapat manapun di dunia. Sejumlah pria berkumpul mengelilingi meja demi merundingkan sesuatu atau membuat keputusan.

Namun, ketiadaan perempuan justru memancing perdebatan mengingat para anggota Partai Republik di dalam foto ini tengah mendiskusikan rancangan undang-undang kesehatan dengan Wakil Presiden Mike Pence.

Salah satu butir dalam diskusi itu membahas perlu-tidaknya rencana asuransi kesehatan mencakup jaminan esensial, termasuk layanan kebidanan.

Foto seperti ini bukan yang pertama. Pada Januari lalu, Presiden Donald Trump juga menandatangani undang-undang aborsi dengan dikelilingi pria, tanpa seorang perempuan pun.

Donald Trump, Amerika Serikat

Sumber gambar, AFP/SAUL LOEB

Keterangan gambar, Presiden Donald Trump saat menandatangani tiga perintah eksekutif, salah satunya tentang larangan aliran dana federal untuk aborsi.

Karena itu, netizen langsung bereaksi ketika Wapres Mike Pence mencuitkan foto rapat tersebut disertai kalimat, "Menghargai bergabungnya @POTUS untuk pertemuan dengan Kaukus Kebebasan hari ini. Inilah saatnya. #LoloskanRUU".

Senator Demokrat, Patty Muray, adalah salah satu yang pertama kali merespons cuitan itu.

'Penampakan yang jarang terlihat di dalam kaukus kesehatan perempuan Partai Republik," cuitnya.

Patty Murray tweet: A rare look inside the GOP's women's health caucus

Sumber gambar, Twitter

Tidak hanya kaum perempuan yang mencuit. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jim McGovern, menilai pertemuan itu patut menjadi sasaran kemarahan.

Jim McGovern tweet: "This is outrageous: Not a single woman in the room as @Mike_Pence and @HouseGOP propose removing maternity coverage in #Trumpcare

Sumber gambar, Twitter

Ada pula netizen yang mengemukakan faktanya. Nicolette, pemilik akun @Milwaukette, menyatakan "51% populasi adalah perempuan. Namun 0% dari kaum itu yang mempengaruhi kebijakan mengenai layanan kebidanan dan kesehatan reproduksi."

Nicolette tweet: "Women are 51% of the pop yet 0% of the people in the room influencing decisions on maternity and reproductive care"

Sumber gambar, Twitter

Rangkaian cuitan bernada kritik itu kemudian ditanggapi Dan Scavino, bawahan Presiden Trump yang khusus menangani media sosial.

Dia mencuit foto Presiden Trump dan Wapres Mike Pence berunding soal RUU Kesehatan dengan sejumlah perempuan dan pria yang merupakan anggota Partai Republik.

Dan Scavino tweet: "Underway - @POTUS Trump and @VP Pence begin meeting with the Tuesday Group in the Cabinet Room here at the @WhiteHouse

Sumber gambar, Twitter

Kurang dari seperlima anggota partai Republik di DPR AS merupakan perempuan. Meski demikian, perwakilan gender bukan hanya masalah Partai Republik. Kongres AS secara keseluruhan masih didominasi pria.

Dalam konteks ini, AS setara dengan Bangladesh, jauh di bawah Swedia yang 44% dari seluruh anggota parlemennya merupakan perempuan.

RUU Kesehatan berdampak pada perempuan

Para anggota Partai Republik ingin Undang-Undang Layanan Kesehatan, atau populer disebut Obacamare, dihapus—termasuk 10 layanan kunci yang mencakup layanan darurat, penggunaan obat, dan layanan kebidanan.

Mereka mewakili orang-orang di AS yang mempertanyakan keharusan membayar untuk layanan yang mereka tidak perlukan, seperti layanan dokter anak-anak untuk orang yang tidak berniat punya anak.

Pandangan itu dikemukakan Senator Republik, Pat Roberts. Ketika ditanya soal perundingan RUU Layanan Kesehatan, dia berseloroh: "Saya tidak ingin kehilangan mammogram."

Ucapan Roberts yang menyindir pemindaian payudara itu mengundang kritik dari sejumlah orang.

Belakangan dia merilis cuitan berisi permohonan maaf. "Saya amat menyesali komentar saya mengenai topik yang sangat penting. Mammogram penting untuk kesehatan perempuan dan saya tidak pernah berniat mengindikasikan yang sebaliknya."