Karena teknologi awak kereta London mogok

Stasiun Stratford

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Pengguna transportasi menunggu masuk ke stasiun Stratford di London timur.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Stasiun kereta Stratford di London timur seperti dikepung lautan manusia pada Selasa pagi (29/04). Mereka berjubel, menunggu di depan pintu masuk maupun di peron untuk bisa naik ke kereta.

Sementara layanan kereta berkurang drastis karena sejak semalam sebelumnya para pegawai layanan kereta yang tergabung di serikat buruh transportasi (RMT) mogok hingga Rabu malam.

Pemandangan yang sama terlihat di stasiun-stasiun di pinggir London yang mengangkut ratusan ribu orang setiap harinya.

Di pusat kota London sendiri jumlah pejalan kaki naik berlipat-lipat. Layanan kereta api bawah tanah yang nyaris lumpuh membuat para pengguna mencari alternatif menuju tempat tujuan.

Ada yang memakai mobil, naik taksi, bersepeda, dan tentu saja yang paling populer: berjalan kaki.

Ini bukan pemogokan yang pertama.

Teknologi penjualan tiket

Tube

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Layanan kereta api bawah tanah berkurang drastis karena pemogokan.

Februari lalu juga terjadi mogok dan akan ada lagi pemogokan pekan depan selama tiga hari jika negosiasi antara serikat buruh dan manajemen London Underground (LU) -operator kereta api bawah tanah London- kembali menemui jalan buntu.

Sengketa antara kedua pihak berpusat pada teknologi.

LU ingin menerapkan teknologi sistem penjualan tiket yang berdampak pada penutupan loket penjualan di berbagai stasiun.

Para pejabat LU beralasan pengguna makin melek teknologi dan pembelian tiket atau karcis sekarang bisa dimungkinkan tanpa keterlibatan pegawai kereta.

Skema ini sebenarnya sudah diterapkan secara beberapa tahun terakhir ditandai dengan makin banyaknya mesin-mesin penjualan tiket yang bentuknya tak ubahnya seperti mesin ATM itu.

LU mengatakan mesin-mesin ini sudah makin efektif melayani pengguna dan staf yang selama ini berjaga di loket bisa dialihkan untuk melakukan tugas-tugas lain.

Itu alasan LU yang tidak bisa diterima oleh serikat buruh yang mengatakan realitas di lapangan tidak seperti itu.

Keselamatan dan layanan ke pengguna

Pengguna transportasi

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Pengguna bus kota London selama dua hari pemogokan berlipat ganda.

Para pengurus serikat buruh mengatakan kehadiran teknologi penjualan tiket membuat makin sedikit staf yang benar-benar hadir di stasiun.

Mereka mengklaim kini makin sering ditemui stasiun kereta hanya dijaga oleh satu orang petugas atau pegawai saja.

Bagaimana kalau terjadi situasi darurat di stasiun? Bagaimana kalau ada penumpang yang memerlukan bantuan karena memiliki keterbatasan fisik? Bagaimana kalau tiba-tiba ada penumpang yang jatuh sakit?

Itulah alasan mereka yang membuat aksi mogok ini dilakukan karena upaya merundingkan ini semua bersama para pejabat LU belum mencapai kesepakatan.

Padahal sejak awal tahun ini tak kurang dari 40 perundingan digelar untuk mencari titik temu.

Jika kedua pihak tak ada yang bersedia untuk mundur atau mengalah, mau tak mau warga maupun pengunjung London harus bersiap untuk menghadapi mogok yang lebih sering di waktu-waktu mendatang.