Indonesia siapkan 15 technopreneur untuk latihan di Inggris

Jumain Appe

Sumber gambar, KEMRISTEK DIKTI

Keterangan gambar, Jumain Appe (kiri) mengatakan 15 pengusaha berbasis teknologi dari Indonesia akan mengikuti latihan selama dua pekan di Inggris.
    • Penulis, Mohamad Susilo | @susilo
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Indonesia menyiapkan 15 pengusaha teknologi atau technopreneur muda yang akan mengikuti pelatihan intensif dan menimba ilmu di Inggris.

Pengiriman ini dimungkinkan berkat kerja sama antara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan pemerintah Inggris, yang ditandatangani di Jakarta, hari Selasa (11/10).

"Kami akan mengirim 15 pengusaha teknologi yang akan mengikuti pelatihan selama dua minggu di Inggris. Mereka akan mendapatkan pengalaman bagaimana memulai dan mengembangkan startup atau perusahaan pemula berbasis teknologi," kata Jumain Appe, Dirjen Penguatan Inovasi Kemristek Dikti kepada BBC Indonesia.

"Pengalaman kami, jarang ada startup Indonesia yang berhasil. Makanya kami ingin para inovator muda belajar di Inggris," kata Jumain.

Ia menjelaskan proses untuk memilih 15 pengusaha teknologi tersebut tengah dilakukan. Tadinya ada 153 orang, yang disaring menjadi 53 orang dan nantinya akan dipilih 15 orang.

"Dalam waktu dekat diharapkan sudah bisa dipilih 15 orang. Untuk bidangnya, sedang kami bahas, ada yang dari sektor teknologi informasi, pertanian, otomotif, energi, dan lain-lain," jelas Jumain.

  • <link type="page"><caption> Pengembangan sumber listrik dari tanaman padi, solusi krisis energi?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160530_majalah_sains_listrik_padi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Lyft perkirakan mobil tanpa sopir dalam waktu lima tahun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160919_majalah_lyft_mobil" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Aplikasi peringatan teror diluncurkan di Prancis</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160608_majalah_teror_aplikasi" platform="highweb"/></link>

"Inggris punya pengalaman yang cukup bagus di dalam pengembangan techno park dan juga technopreneurship," tambahnya.

Inggris siapkan Rp12,8 miliar

Ke depan, kata Jumain, mereka yang sudah mengenyam pelatihan di Inggris bisa berbagai pengalaman dengan para inovator muda lainnya di Indonesia.

Untuk kerja sama menyiapkan generasi baru pengusaha berbasis teknologi ini pemerintah Indonesia menganggarkan dana Rp5 miliar sementara di pihak Inggris telah disetujui dana bantuan £800.000 atau sekitar Rp12,8 miliar.

Menteri Inggris yang membidangi Asia, Alok Sharma, yang menandatangani kerja sama ini menjelaskan bahwa dana yang disiapkan pemerintah Inggris secara khusus dipakai untuk mendanai pelatihan bagi inovator dan saintis muda Indonesia.

"Agar mereka bisa menjadi pendorong inovasi dan selain itu juga ini adalah bagian dari upaya meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang sains dan teknologi," kata Sharma.

"Proyek ini akan mendorong lahirnya generasi baru technopreneur," katanya.

Menristek Dikti, Mohamad Nasir, mengatakan melalui kerja sama dengan komunitas sains di Inggris, Indonesia mampu membangun kapasitas para inovator untuk menghadapi berbagai tantangan," kata M. Nasir.

Beberapa pengusaha berbasis teknologi di Indonesia menyambut baik skema ini.

Daniel Kambey yang bergerak di bidang traveling atau perjalanan mengatakan skema pelatihan ini setidaknya akan memperluas wawasan, selain juga membuka kemungkinan interaksi dengan investor di Inggris.

"Banyak pengembang di Indonesia yang mengacu ke Amerika Serikat atau negara-negara di Asia, dengan mengikuti latihan di Inggris tentunya menambah wawasan atau point of view akan makin luas," ujar Daniel.

Hanindia Narendreta, yang mengembangkan situs perbandingan harga produk, mengatakan Inggris, Eropa, dan Amerika relatif lebih maju di bidang digital economy dibandingkan Indonesia.

"Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari skema semacam ini ... ekosistem di sana juga lebih berkembang," kata Hanindia.

"Dan tentunya bisa belajar banyak dari pengalaman para technopreneur di Inggris."