Pencalonan Ahok oleh PDI Perjuangan dinilai realistis

Sumber gambar, BBC INDONESIA
- Penulis, Sri Lestari
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
PDI Perjuangan dijadwalkan akan mendaftarkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat, wakil gubernurnya saat ini, Rabu (21/09).
PDI Perjuangan akhirnya secara resmi mengumumkan pencalonan Basuki Tjahaya Purnama sebagai calon gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan wakilnya saat ini Djarot Syaiful Hidayat, setelah melalui proses yang panjang, dan sempat disebut-sebut akan mencalonkan melalui jalur independen.
Sebelumnya Ahok juga sudah didukung oleh Partai Nasdem, Hanura dan Partai Golkar, dan sempat melontarkan akan berpasangan dengan Heru Budi Hartono, birokrat di Provinsi DKI Jakarta.
- <link type="page"><caption> PDI Perjuangan akhirnya usung Ahok di pilgub Jakarta</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160920_indonesia_gubernur_jakarta" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pemilihan gubernur Jakarta 'paling panas' dan 'terheboh' karena sosok Ahok</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160920_trensosial_gubernur_jakarta" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apa artinya dukungan sejuta KTP untuk Ahok?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160620_indonesia_ahok_ktp" platform="highweb"/></link>
Sejumlah nama calon antara lain Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, sempat disebut-sebut akan diusung oleh PDI Perjuangan untuk menjadi kepala daerah di Jakarta. Tapi menjelang penutupan pendaftaran calon gubernur DKI Jakarta, PDI Perjuangan mengumumkan pencalonan Ahok-Djarot.
"PDI Perjuangan menilai pasangan Ahok-Djarot mampu meneruskan dan mengimplementasikan visi Jakarta baru yang diusung oleh Bapak Jokowi dan Bapak Ahok dalam pilkada tahun 2012 lalu. Hal ini dibuktikan dengan berbagai tanggapan, persepsi positif sebagaimana ditangkap hasil survei yang konsisten selama setahun terakhir yang menunjukan kepuasan publik DKI," jelas Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Nama Ahok-Djarot diumumkan bersama dengan 100 pasangan kepala daerah lain yang diusung PDI Perjuangan.
Ahok dan Djarot juga menandatangi kontrak politik yang berisi 10 poin, antara lain menyediakan pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Satu visi dengan PDI Perjuangan
Pengumuman ini menjadi akhir dari proses panjang pencalonan Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta. Awalnya, Ahok akan dicalonkan melalui jalur independen maka dikumpulkanlah satu juta KTP oleh kelompok pendukungnya, Teman Ahok.
Setelah KTP terkumpul, Partai Nasdem dan Hanura mulai mendukung Ahok. Setelah itu Partai Golkar pun ikut mendukung setelah pengumpulan KTP menembus satu juta. Teman Ahok pun menyerahkan keputusan kepada Ahok untuk maju sebagai calon partai atau tetap independen.
PDI Perjuangan merupakan partai terakhir yang mencalonkan Ahok sebagai cagub.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Ahok mengatakan meski bukan anggota partai, dia memiliki persamaan visi dengan PDI Perjuangan dan akan meneruskan kebijakan yang sudah dijalankan sejak Jokowi masih menjadi gubernur DKI Jakarta.
"Tak ada lagi istilah masalah SARA, itu sudah ketinggalan, NKRI, Pancasila itu sudah selesai, makanya bagi Ibu Megawati sebagai ketua umum ini harus diperjuangkan ini Indonesia, ini ibu kota," jelas Ahok.
"Saya dari dulu tak pernah masuk PDI Perjuangan tetapi yang saya perjuangkan dari dulu dengan Pak Taufik Kiemas dan Bu Mega itu sejalan dengan apa yang dicita-citakan oleh PDI Perjuangan, kita teruskan dari Pak Jokowi itu,” jelas Ahok.
Pilihan realistis
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Sri Budi Eko Wardhani, menilai langkah PDI Perjuangan untuk mencalonkan Ahok merupakan pilihan dengan pertimbangan realistis secara politik karena dalam sejumlah survei tak ada calon lain yang dapat mengungguli Ahok.
“Artinya PDI Perjuangan realistis: mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang sangat realistis secara politik karena tidak ada alternatif yang lebih memungkinkan untuk PDIP mencalonkan (tokoh) di luar Ahok. Walaupun ada Bu Risma, survei menunjukkan Ahok tetap lebih unggul. Calon lain yang ada: Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga Uno, bukan plihan yang sesuai dengan PDIP, partai pengusungnya juga sudah sangat berbeda ideologinya," jelas Wardhani.
Dia juga menambahkan pilkada DKI Jakarta merupakan ajang bagi partai untuk menghadapi pemilu 2019.
"Di sisi lain kalau PDI P tidak mencalonkan Ahok dan Djarot berdasarkan asumsi Ahok akan menang dengan kondisi yang ada, itu yang akan mengambil kreditnya itu Golkar dan Nasdem misalnya -tapi yang utama Golkar karena merupakan pesaing utama dalam perolehan kursi nasional, karena ini menghadapi pemilu 2019," tambah dia.
Dia menilai masalah ras dan kesantunan masih akan digunakan menyerang Ahok sebagai strategi untuk memenangkan pilkada DKI Jakarta yang digelar serentak dengan daerah lain pada 2017 nanti.
Penutupan pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ditetapkan pada 23 September mendatang. Sejauh ini selain Ahok, calon gubernur yang muncul adalah Sandiaga Uno yang dicalonkan Partai Gerindra, tetapi belum diputuskan calon wakilnya.









