Perlindungan bencana tidak bisa hanya peringatan dini

Sebanyak 56 orang tewas, sembilan hilang dan 22 luka-luka akibat banjir dan longsor di Jawa Tengah.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Sebanyak 56 orang tewas, sembilan hilang dan 22 luka-luka akibat banjir dan longsor di Jawa Tengah.
    • Penulis, Isyana Artharini
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Purworejo, Jawa Tengah dan Sangihe, Sulawesi Utara, membuat langkah penanganan bencana, terutama dari sisi pencegahan korban, menjadi sorotan karena korban jiwa yang terus berjatuhan saat bencana datang.

Pakar bencana dan Ketua Magister Manajemen Bencana UGM, Sudibyakto, mengatakansistem peringatan dini bencana di lapangan sering tidak efektif, namun masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana sebenarnya bisa dilindungi sehingga jumlah korban bisa dikurangi, dengan memasukkan peta bencana dalam rencana tata ruang daerah.

"Tidak mudah mencari solusi untuk pengurangan jumlah korban, karena mereka tinggal di daerah rawan bencana, secara geologis kita harus tahu itu daerah rawan longsor atau tidak. Di atas vegetasinya rapat, tapi di batuan ada bidang gelincirnya. Dalam penataan ruang, harus berbasis pada risiko bencana, dan dituangkan dalam satu dokumen sehingga semua kegiatan pembangunan bisa berdasar pada satu peta yang valid," kata Sudibiyakto.

Dengan pendekatan ini, menurutnya, perlindungan terhadap masyarakat di daerah rawan bencana tidak hanya tergantung pada sistem peringatan dini atau tanggap masyarakat pada bencana, tapi bahwa berdasarkan peta tata ruang, mereka tak boleh lagi tinggal di wilayah bencana.

Dalam penanganan bencana yang berlangsung saat ini, Sudibiyakto menilai bahwa upaya mitigasi bencana sering terhambat karena "belum adanya prosedur standar tanggap darurat di banyak daerah".

Relokasi

"Artinya siapa berbuat apa, di tahap mana, ini perlu ditingkatkan," kata Sudibyakto.

Selain itu, Sudibyakto juga menyoroti pentingnya daerah menetapkan anggaran penanganan darurat bencana yang menurutnya saat ini hanya sedikit, "Antara satu atau nol koma sekian persen dari APBD."

Kerusakan rumah dan infrastruktur akibat banjir dan longsor di Kabupaten Purworejo diperkirakan mencapai Rp 15,73 miliar.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Kerusakan rumah dan infrastruktur akibat banjir dan longsor di Kabupaten Purworejo diperkirakan mencapai Rp 15,73 miliar.

Kepada media, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, saat ini tim SAR mengerahkan peralatan berat dan sekitar 300 personel serta anjing pelacak untuk mencari sembilan korban yang masih hilang.

Polri juga mengerahkan anjing pelacak untuk melakukan pencarian.

Namun, banyaknya warga yang menonton lokasi longsor menyebabkan kesulitan di lapangan.

Selain itu, masyarakat yang rumahnya tertimbun longsor dan rusak berat di lokasi bencana rencananya akan direlokasi di tempat yang lebih aman.

BNPB menyebut “relokasi ini akan dilakukan lewat dialog lebih lanjut dengan masyarakat agar dapat menempati rumah yang lebih aman”.

Terbenam 12 jam

Yohansyah Gusti Darma, yang istri, ibu dan anaknya terbenam lumpur dalam bencana longsor di Desa Donoranti, Purworejo, Jawa Tengah, mengatakan bahwa dia tak tahu wilayah yang ditinggalinya termasuk wilayah rawan bencana.

Mereka juga tak pernah mengetahui langkah antisipasi atau pencegahan yang bisa dilakukan saat longsor terjadi.

Setelah longsor, menurut Yohansyah, istrinya sempat terbenam 12 jam sebelum kemudian ditemukan oleh tim penyelamat.

"Memang tak ada celah untuk bernapas, untuk gerak juga tak ada, tertimbun cuma kaki saja yang kelihatan," kata Yohansyah seperti dilaporkan wartawan Yaya Ulya dari Purworejo kepada BBC Indonesia.

Selain 42 orang korban tewas di Purworejo, terdapat sembilan orang tewas tertimpa longsor di Banjarnegara.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Selain 42 orang korban tewas di Purworejo, terdapat sembilan orang tewas tertimpa longsor di Banjarnegara.

"Hujan makin deras katanya, ibu sempat melihat ke luar, kok hujan deras banget. Nggak lama itu suara gemuruh kayak pesawat terbang, nggak lama langsung bruk, ibu mertua itu sudah terlempar ke atas," ujar Yohansyah lagi mengisahkan peristiwa bencana yang dialami keluarganya.

Sementara itu, juru bicara BMKG Kukuh Ribudiyanto memprediksi bahwa kemungkinan hujan deras masih akan terus berlanjut karena fenomena cuaca La Nina yang baru akan menguat pada Juli nanti, sehingga masyarakat tetap harus waspada terhadap potensi bencana lanjutan.

"Dari segi suhu muka laut kita, prakiraan kita musim kemarau tahun ini cukup basah, dan ada indikasi adanya La Nina aktif. Aktifnya seperti apa kita pantau terus. Di musim kemarau ini masih banyak hujan, sehingga di musim penghujan nanti, hujannya akan lebih banyak lagi," kata Kukuh.