Setelah empat WNI dibebaskan: 'Ibu Syamsir sudah bisa tertawa lagi'

Sumber gambar, AFP
"Ibu sekarang sudah bisa tertawa dan tersenyum lagi," demikian Rano, kakak kandung Syamsir, salah seorang dari empat WNI yang baru saja dibebaskan dari kelompok penyandera di Filipina selatan.
Syamsir, 26 tahun, adalah salah seorang dari empat anak buah kapal (ABK) TB Henry yang diculik oleh kelompok penyandera sejak 15 April 2016 lalu dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan, Kalimantan Utara.
Melalui kerjasama dengan otoritas Filipina, keempat WNI itu akhirnya dibebaskan, kata Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers resmi di Istana Merdeka, Rabu (11/05) malam.
Pembebasan Syamsir dan tiga rekannya terjadi setelah 10 WNI lainnya dibebaskan pada akhir April lalu. Mereka diyakini disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan.
Rencananya empat WNI tersebut akan diserahkan kepada perwakilan pemerintah Indonesia di Filipina pada Kamis (12/05), demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Indonesia.
- <link type="page"><caption> Dibebaskan, empat sandera WNI di Filipina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160511_indonesia_empat_wni_bebas" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Jokowi: pulau lokasi empat sandera Indonesia sudah diketahui</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160505_indonesia_jokowi_tiga_negara" platform="highweb"/></link>
Syamsir, yang merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, lahir dan dibesarkan di Dusun Bangle, Desa Kanna Utara, Kecamatan Besse Sangtempe (Bastem) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Melalui hubungan telepon, wartawan BBC Indonesia Heyder Affan menghubungi kakak Syamsir, Rano, yang tinggal di Bastem, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Dia dihubungi saat dalam perjalanan menuju ke Makassar sebelum naik pesawat ke Jakarta untuk menjemput adiknya.
Perusahaan tempat bekerja adiknya telah menyediakan tiket pesawat untuk keluarga empat sandera yang dibebaskan.
"Saya bersyukur karena melihat ibu bisa tersenyum dan ketawa lagi," ungkapnya. Pria kelahiran 1988 tinggal bersama sang ibu di Dusun Bangle. Adapun ayah Syamsir meninggal lima tahun silam.
Larut dalam kesedihan
Rano lantas teringat bagaimana sang ibu larut dalam kesedihan yang mendalam selama adiknya tidak bisa dihubungi sejak pertengahan April lalu.
"Namanya orang tua pasti perasaannya tak karuan, kalau anaknya dalam keadaan begitu," ungkapnya lirih.
Tidak bisa berbuat apa-apa, dan semata mengandalkan upaya pemerintah Indonesia dan otoritas Filipina, keluarga Syamsir akhirnya meyakini sepenuhnya pada kekuatan doa.

Sumber gambar, AFP
"Kita hanya membantu dengan doa. Kita tak bisa berbuat apa-apa, hanya salat dan berdoa... Tuhan akhirnya sudah membukakan jalannya," kata pria yang sehari-hari menjadi petani ini.
Dia mengatakan keluarganya baru mengetahui pembebasan Syamsir dari siaran televisi ketika Presiden Joko Widodo mengumumkannya di Istana Merdeka.
"Di situ kita baru tahu," kata Rano. "Syukur Alhamdulillah kalau sudah bebas."
Ditanya bagaimana sikap keluarga tentang masa depan Syamsir di dunia pelayaran, Rano menyerahkan sepenuhnya kepada sang adik. Lagi-lagi dia meyakini yang disebutnya sebagai takdir.
"Kita pasrah kepada sang Maha Kuasa. Kita di kampung percaya dengan ajal yang sudah diatur Yang Kuasa."









