Para sandera WNI diancam tapi tidak ada kekerasan

Para ABK yang disekap kelompok Abu Sayyaf mengaku menerima tekanan dan ancaman.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Para ABK yang disekap kelompok Abu Sayyaf mengaku menerima tekanan dan ancaman.

Seorang sandera WNI yang sudah dibebaskan dari Filipinan Selatan mengaku merasa amat tertekan selama mereka disekap oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

“Kita semua stres, sering diancam akan diiris di leher,” kata Julian Philip, yang bekerja sebagai Mualim di kapal tongkang Anand 12.

Ditemui BBC Indonesia pada Senin (02/05) di gedung Kementerian Luar Negeri, para anak buah kapal (ABK) tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 itu tampak dalam keadaan sehat walafiat.

  • <link type="page"><caption> Pemerintah serahkan 10 WNI yang dibebaskan ke keluarga</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160502_indonesia_wni_filipina_diplomasi.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Keluarga menanti WNI yang dibebaskan dari kelompok Abu Sayyaf</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160501_indonesia_sandera_keluarga" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Presiden: Pembebasan 10 WNI dari Abu Sayyaf hasil kerja sama banyak pihak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160501_indonesia_wni_sandera_bebsa.shtml" platform="highweb"/></link>

Meski demikian, Julian mengatakan mereka tidak mengalami kekerasan fisik, yang menurutnya bisa jadi karena penyandera khawatir tidak akan menerima uang tebusan.

“Mereka tidak mau para sandera ada yang meninggal... mungkin juga mereka berpikir kalau ada satu orang yang meninggal, uang itu tidak dapat,” kata Julian.

Peter Tonsen

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Peter Tonsen membenarkan bahwa WNI yang disandera tidak mengalami tindak kekerasan oleh kelompok Abu Sayyaf.

Julian tidak tahu nama tempat dia dan rekan-rekannya disekap namun selama satu bulan mereka beberapa kali dipindahkan karena para penculik ingin menghindari operasi militer tentara Filipina.

Beralaskan daun kelapa

Sementara Peter Tonsen Barahama -Nahkoda di kapal Brahma 12- mengatakan para sandera diberi akomodasi seadanya.

“Kami tidur pun beralaskan daun kelapa. Sama dengan mereka. Jadi kami tidur di tanah, mereka tidur di tanah. Apa yang mereka makan, itu yang kami makan,” ujar Peter.

Dalam kondisi demikian, kata Peter, tidak ada sandera yang mengalami sakit parah.

“Kalau yang sakit ya sakit-sakit biasa –kurang makan, terlambat makan, gatal-gatal,” katanya.

Dia pun membenarkan bahwa tidak ada tindak kekerasan yang dialami para tawanan.

“Ancaman dan ultimatum ada... tapi ya hanya bercanda. Tidak ada eksekusi.”

Baik Peter maupun Julian mengaku tidak tahu-menahu soal proses negosiasi. Mereka hanya tahu ketika digiring ke pantai, dan kemudian para penculik menyuruh mereka naik perahu.

"Begitu sampai tujuan, kita dibawa dengan truk. Setelah itu kita disuruh cari sendiri rumah gubernur," kata Julian.

Kesepuluh ABK idibawa penyandera ke rumah Gubernur Sulu, Toto Tan, pada Minggu(01/05) dini hari. Setelah itu mereka dibawa ke Provinsi Zamboanga dengan helikopter, sebelum kembali diterbangkan ke Jakarta.